Showing posts with label New Gnosticism. Show all posts
Showing posts with label New Gnosticism. Show all posts

Thursday, July 24, 2008

Injil Yudas: Kembalinya Gnostisisme


Iman kita kembali digugah dengan ditemukannya kembali naskah Injil Yudas. Berkaitan dengan wacana ini, Uskup Agung KAP, Mgr. Hieronymus Bumbun, OFMCap., menulis: “Bermasa bodoh terhadap suatu temuan baru mencerminkan bahwa kita tidak mau tahu...terhadap apa yang terjadi dalam masyarakat.” (Duta No. 242, hlm. 35). Benar, kita tidak bisa lagi hanya mengangkat bahu seraya berdoa agar “gangguan-gangguan” iman itu cepat berlalu. Tulisan ini menindaklanjuti himbauan Mgr. Hieronymus dengan mencoba menempatkan kembali posisi buku Injil Yudas pada “habitat” asli atau konteksnya dalam sejarah. Dengan ini diharapkan tulisan ini dapat membantu pembaca mengerti isi dan menentukan sikap atasnya.

Asal-usul Injil Yudas
Seperti ditegaskan oleh Mgr. Hieronymus, buku tua berjudul Injil Yudas bukanlah penemuan baru. Mungkin lebih tepat dikatakan sebagai penemuan kembali. Keberadaan buku ini telah kita ketahui melalui tulisan-tulisan perlawanan dari St. Ireneus, uskup Lyons pada abad ke-2.

Buku tua ini ditemukan kembali pada akhir 1970-an (mungkin 1978) di Mesir dalam bentuk papirus (bahan khas untuk buku kuno). Selama lima tahun, buku kuno ini beredar di pasar barang kuno Mesir. Pada tahun 1983, temuan ini ditawarkan kepada James Robinson, ahli dalam perpustakaan Nag Hammadi. Setelah penjual tidak bisa mendapatkan harga yang diminta, buku tua ini pindah tangan ke Amerika, tersimpan dalam suatu brankas di Long Island. Seorang pedagang barang antik dari Zurich bernama Frieda Tchacos Nussberger kemudian membelinya pada tahun 2000 dan membawanya ke Swiss. Dengan bantuan National Geographic, temuan kuno ini diuji dengan sistem radiokarbon-14 untuk menentukan umur (tarikh) dan otentisitasnya. Tes radiokarbon ini menunjukkan bahwa tarikh buku tua ini antara 220-340 M.

Teks buku ini ditulis dalam bahasa Koptik (Mesir kuno). Bahasa ini diciptakan oleh penulis Mesir sebagai bahasa terjemahan untuk menyampaikan pesan dari bahasa Yunani ke bahasa Mesir atau sebaliknya. Bahasa Koptik merupakan bahasa penting selama penyebaran kekristenan di Mesir. Buku ini diduga kuat merupakan terjemahan dari teks asli berbahasa Yunani yang diperkirakan ditulis antara tahun 130-150 M. Hal ini didasarkan pada materi teologi yang dipakai dan pemikiran khas Gnostisisme abad ke-2 yang muncul dalam teks.

Isi Injil Yudas
Seperti tulisan-tulisan Gnostik lainnya, Injil Yudas dimulai dengan pengantar yang menyatakan sifat rahasia dari teksnya. Mau ditegaskan bahwa isinya seolah-olah merupakan laporan rahasia pewahyuan yang diberikan Tuhan Yesus dalam percakapan pribadi dengan Yudas. Melalui berbagai kisah peristiwa, buku ini menempatkan keduabelas rasul pada posisi yang lebih rendah, dan sebaliknya memberikan tempat istimewa dan lebih tinggi kepada Yudas. Warna gnostis juga tampak dalam anggapan bahwa Allah Perjanjian Lama (Yudaisme) yang menciptakan dunia materi bukanlah Allah sejati. Allah inilah yang disembah oleh keduabelas rasul mewakili keduabelas suku Israel. Hal inilah yang membuat mereka lebih rendah. Sementara Allahnya Yudas adalah Allah yang lain, Roh sempurna. Aspek ini membuat Yudas menduduki posisi lebih tinggi.

Berbeda dari keempat Injil kanonik yang tidak mengulas kisah penciptaan, buku ini menguraikannya dengan warna khas Gnostik. Dari Allah sejati, Roh Agung, keluarlah Pencipta yang menciptakan banyak malaikat dan makhluk, yang kemudian menciptakan makhluk-makhluk lain yang lebih rendah. Karena materi pada dasarnya jahat, maka Yesus hanya seolah-olah manusia. Putera Allah tidak mungkin menjelma menjadi manusia (materi) yang jahat. Yudas dipuji karena dia mengorbankan sisi kemanusiaan Yesus. Dengan menyerahkan Yesus untuk dibunuh, Yudas bukan mengkhianati-Nya, tetapi justru membebaskan-Nya dari aspek materi. Hal ini jugalah yang membuat Yudas menjadi murid terbesar karena telah mengantar Yesus untuk menggenapi misi-Nya.

Dengan ini penulis buku ini (bukan Yudas; “Yudas” hanya nama samaran) mau membuat tokoh jahat menjadi pahlawan. Hal ini erat kaitannya dengan sekte Kainis (dari nama Kain): aliran yang berusaha “membenarkan” tindakan tokoh-tokoh hitam dalam Alkitab, mulai dari Kain yang membunuh Habel hingga Yudas Iskariot yang mengkhianati Yesus.

Dalam buku Against Heresies (Melawan Bidaah), Ireneus memaparkan keberadaan sekte Kainis di balik Injil Yudas. Sekte ini menekankan adanya pengetahuan rahasia yang hanya disingkap untuk orang tertentu saja. Rahasia itulah yang membedakan tindakan orang-orang pilihan. Dengan kata lain, orang yang tidak tahu rahasia yang diterima Yudas, akan mengecam tindakan Yudas sebagai pengkhianatan. Inilah sudut pandang utama Injil Yudas!

Tinjauan Kritis Atas Injil Yudas
1. Selain secara tidak langsung memberikan sumbangan bagi pemahaman tentang kekristenan abad ke-2, Injil Yudas tidak memperlihatkan manfaat yang bermakna. Dengan ditemukannya kembali Injil Yudas, secara tidak langsung diperlihatkan sejarah lampau perjuangan Gereja awal melawan Gnostisisme. Injil Yudas tidak mengatakan apa-apa yang otentik dan terpercaya tentang Yesus. Injil Yudas tidak bercerita tentang pengadilan, eksekusi atau kebangkitan. Setelah bertutur tentang kemuliaan Yudas karena membantu Yesus menyelesaikan misi keselamatan-Nya, buku ini selesai karena sudah membicarakan apa yang ingin dibicarakan. Mungkin buku ini tidak lebih daripada “rasionalisasi” atau upaya “mencari-cari” alasan logis atas kejahatan.

2. Teks tua ini juga jelas mencerminkan pemikiran religius yang disebut Doketisme. Aliran ini menekankan bahwa Yesus datang ke dunia hanya tampak sebagai manusia. Kemanusiaan Yesus ditolak karena bertentangan dengan keilahian-Nya sebagaimana kejahatan bertentangan dengan kebaikan.

3. Injil Yudas memperlihatkan sifat anti Yudaisme. Hal ini tampak dalam “khayalan” penulis tentang kisah penciptaan yang bertolak belakang dengan yang diajarkan Yudaisme dalam Kitab Kejadian. Injil Yudas juga mau “melepaskan” Yesus dari keyahudian-Nya melalui pembinasaan kemanusiaan-Nya. Sepertinya, penulis buku dan komunitas penganutnya tidak dapat menerima bahwa Gereja merupakan kelanjutan dari sejarah Israel.

4. Kita juga menemukan individualisme radikal dalam buku tua ini. Dengan skenario tentang rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang pilihan, penulis mendiskreditkan peran kelompok. Anehnya, hal ini dilakukan dengan mempertentangkan posisi keduabelas rasul dengan Yudas. Padahal sebelum kematian Yesus, Yudas masih bagian dari keduabelas rasul.

5. Berbeda dari keempat Injil kanonik yang ditulis pada abad-abad awal, Injil Yudas ditulis pada abad-abad lanjutan. Tidak mungkin orang menuliskan hal-hal aneh dan kontroversial pada saat ingatan dan kesaksian akan fakta sejarah masih kuat. Keempat Injil, kendati tidak bertujuan untuk menjadi buku sejarah, ditulis dalam tarikh yang amat dekat dengan masa hidup Yesus. Bila terdapat kesalahan, sejarah yang terkandung di dalamnya dapat dengan mudah ditegaskan atau ditentang oleh orang-orang yang hidup di zaman itu. Sedangkan jarak yang terbentang antara peristiwa dan penulisan Injil Yudas membuat karya ini sulit dikatakan mengandung nilai sejarah. Menurut Ireneus, buku ini tidak lebih dari sekedar cerita rekaan.

6. Teks kuno ini diakhiri dengan kata-kata: “Injil Yudas”, bukan “Injil menurut Yudas”, seperti yang kita temukan dalam Injil-injil kanonik. Hal ini menyiratkan bahwa Yudas jangan dipahami sebagai penulis injil, sebaliknya Injil Yudas berbicara tentang Yudas sendiri! Isi buku seperti terurai di atas mengokohkan argumen ini. Injil Yudas lebih tepat dimengerti sebagai “kabar baik” tentang Yudas; buku untuk memulihkan nama baiknya setelah dicap pengkhianat oleh pendapat umum.

Setelah Injil Yudas, barangkali kita masih harus “berurusan” dengan “injil-injil” lainnya. Tidak apa-apa. Seperti yang ditulis Mgr. Hieronymus, Gereja kita terbuka menghadapi segala kemungkinan. Itulah wajah dan isi Gereja yang inklusif, terbuka, dan dialogal. Yang dibutuhkan adalah kesiapan mental untuk berdialog dengan pihak mana pun. Hal itu harus ditopang dengan pendalaman iman dan Alkitab secara bersinambung.


Lianto (Publikasi: Didache Januari 2008)

New Age Movement; "Agama" Baru?


Era baru dunia ditandai dengan kemajuan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Tak disangkal, perkembangan iptek telah menjembatani jurang antar bangsa di dunia. Dengan teknologi informasi yang canggih, manusia di belahan dunia berbeda merasa semakin satu dan global. Tanpa melupakan sisi positifnya, kemajuan teknologi di sisi lain menimbulkan alienasi (pengasingan) dalam diri manusia. Ada jurang antara kepintaran dan kebijaksanaan; antara kepala dan hati manusia. Seiring dengan perkembangan pesat di bidang teknologi, industri, dan informasi, millennium baru kita ditandai dengan fenomena kekosongan batin manusia dan pelbagai usaha pribadi maupun kelompok untuk memuaskannya. Sepertinya ramalan rasionalistik yang melihat kemajuan teknologi diyakini dapat membuat manusia tidak lagi membutuhkan agama mesti ditinjau kembali. Di penghujung abad ke-20 dan di derap langkah awal memasuki abad ke-21, kita justru menemukan tendensi pencarian kembali nilai-nilai religius dan spiritual serta aneka pemahaman tentang diri dan kesadaran diri. Salah satu wadah pencarian nilai-nilai tersebut adalah New Age Movement yang menampilkan diri dalam berbagai “bendera” yang berbeda; dengan semangat (spiritualitas) yang sama.

Asal Muasal New Age Movement
New Age Movement adalah gerakan kebangkitan kembali nilai-nilai religius-spiritual dari agama-agama dan tradisi klasik (terutama dari Timur). Gerakan ini menyebar secara spontan ke seluruh dunia sejak tahun 1960-an. Kendati telah tersebar luas, nama gerakan ini tidak banyak dikenal. Ini gerakan spontan yang bukan tersebar di bawah naungan agama atau organisasi tertentu. Napas ajaran New Age yang satu dan sama berkembang di balik “jubah” yang berbeda-beda. Jubah yang dikenakan mulai dari pengobatan alternatif, teknik-teknik relaksasi dan meditasi, senam pernapasan, novel-novel science fiction, psikologi humanistik, pola makan vegetaris hingga jubah pelestarian lingkungan hidup.

Napas awal aliran ini bisa jadi bermuara pada spiritisme yang dipopulerkan oleh Mary Baker Eddy, pendiri Christian Science. Helena Petrovna Blavatsky, pelopor gerakan Teosofi, juga dikaitkan sebagai cikal-bakal gerakan New Age. Lebih jauh ke belakang; filsafat pantheistik Taoisme di Cina, gnostik Stoa di Yunani, hingga The Transcendental Movement-nya Thoreau dan Emerson ikut menjadi rujukan bagi kalangan New Age.

Sebutan “New Age” mulai populer setelah Marilyn Ferguson (seorang tokoh New Age) memperkenalkannya lewat lagunya yang berjudul Age of Aquarius di tahun 1960-an. Sejak 1970-an, istilah ini secara terbuka menjadi istilah umum dengan diterbitkannya buku Mark Satin yang berjudul New Age Politics. Disusul dengan beredarnya New Age Journal dan buku Marilyn Ferguson yang berjudul The Aquarian Conspiracy: Personal and Social Transformation During the 80’s. Istilah New Age dipakai untuk menunjuk tibanya era baru di mana konstelasi rasi Pisces beralih ke rasi Aquarius. Perjalanan orbit keduabelas rasi bintang memakan waktu 25.900 tahun. Tiap rasi membutuhkan waktu edar selama 2.158 tahun. Dari sini disimpulkan bahwa siklus astrologis era Pisces yang menjadi simbol era Kristen sekarang menuju titik akhir. Kini tiba saatnya peralihan ke era baru, yakni era Aquarius. Bila di era yang lalu, dunia didominasi oleh materialisme, kini di era baru, dunia ditandai dengan pembukaan (inaugurasi) suatu “level baru kesadaran.”

Di kalangan ilmuwan modern, kita melihat warna pikiran New Age dalam diri filsuf sekaligus saintis; Fritjof Capra. Ia sangat dipengaruhi oleh Niels Bohr dan Werner Heisenberg, penulis Physics and Philosophy, ahli fisika kwantum, yang berpendapat bahwa dunia materi bukan kumpulan benda-benda terpilah seperti yang terlihat, melainkan jaringan hubungan yang merupakan kesatuan. Ia bergaul dekat dengan guru-guru spiritual seperti J. Krishnamurti, Alan Watts, Phiroz Mehta, dan guru tai-chi Liu Hsiu Chi yang memperkenalkan Taoisme. Bukunya, The Tao of Physics (1976) dalam waktu singkat menjadi bestseller internasional. Capra melihat adanya koherensi antara fisika modern dengan filsafat Timur seperti Hinduisme, Budhisme, dan Taoisme. Fisika klasik dalam Newton melihat dunia secara mekanistik; terdiri dari zat mati dan terpisah. Descartes yang dualistik juga memilah dalam perbedaan antara res extensa dan res cogitans. Pendekatan ini menimbulkan pengasingan dan jurang antara alam dan kemanusiaan. Sementara fisika modern (kwantum) dan filsafat Timur melihat dunia sebagai kesatuan holistik yang dinamis dan senantiasa berubah.

Beberapa Tema Ajaran New Age
Seperti telah disebut di atas bahwa New Age menampilkan diri dalam aneka bendera yang berbeda, namun dijiwai dengan semangat yang sama. Para pengikut aliran ini juga sering memakai simbol-simbol untuk gerakan mereka, antara lain: pelangi, piramida, segitiga, unicorn, swastika, yin-yang, kepala kambing di atas pentagram, dan angka 666. Untuk pengenalan lebih jauh, berikut ini diuraikan beberapa tema pokok ajaran New Age.

1. Tuhan
Pengikut New Age melihat Tuhan dengan kacamata pantheistik; semua adalah tuhan, dan tuhan adalah semua (mirip dengan Pantheisme Monistik dari Spinoza). Yang dimaksud dengan Tuhan adalah suatu kekuatan, kesadaran atau energi kosmis (mirip dengan élan vital-nya Bergson) yang tidak berpribadi. Energi atau roh semesta ini pada dasarnya baik sekaligus mempunyai sisi gelap dalam dirinya. Ingat saja simbol yin-yang Taoisme. Kedua sisi yang tampaknya bertentangan ini sejatinya saling melengkapi (contraria sunt complementa-Niels Bohr).

2. Manusia
Manusia adalah lelehan kecil (mikrokosmos) dari energi kosmis (makrokosmos) dan mempunyai sifat ilahi dalam dirinya. Secara empiris, manusia dan segala yang ada memang berbeda, tetapi pada hakikatnya identik, satu dan sama, bahkan dengan Tuhan/roh semesta. Karena itu, manusia juga bersifat kekal. Reinkarnasi merupakan bukti penerusan energi kekal manusia. Kematian merupakan peleburan kembali ke dalam roh kosmis semesta.

3. Doa
Doa dalam New Age ditempuh dengan meditasi untuk menyatukan atau meleburkan diri dengan sumber/asal manusia, yakni roh semesta/kosmis.

4. Dosa dan Keselamatan
Manusia pada dasarnya baik. Karena itu tidak ada konsep tentang dosa. Kejahatan hanyalah ketidakseimbangan roh/energi dalam diri manusia. Dengan demikian tidak ada pula konsep tentang keselamatan. Manusia hanya perlu mengusahakan keseimbangan energi dalam dirinya agar makin sesuai dengan keseimbangan kosmis.

5. Wahyu
New Age yakin akan adanya wahyu yang merembes dari roh semesta melalui perantara-perantara (medium/mediator, channeler, avatar) yang mempunyai indera khusus.

6. Penyakit dan Kesehatan
Dalam diri manusia terdapat energi kosmis yang harus dijaga keseimbangannya. Medan energi kosmis itu disebut aura. Penyakit disebabkan oleh aura yang menipis atau menebal sehingga keseimbangan terganggu. Untuk itu, penganut New Age mengembangkan sistem pengobatan alternatif yang dikenal dengan kesehatan holistik. Salah satu metode penyembuhan yang sedang populer adalah penyembuhan dengan energi prana. Diyakini bahwa energi prana yang ditempelkan pada bagian tubuh yang sakit dapat mengembalikan keseimbangan aura dan dengan demikian kesehatan tubuh diperoleh. Ada pula yang mempraktekkan teknik relaksasi, meditasi, dan visualisasi. Imaginasi pikiran yang aktif (Carl Jung) dianggap dapat membangkitkan ketahanan tubuh untuk melawan sel-sel yang merusak dalam tubuh. Teknik visualisasi dalam melawan penyakit ditemukan juga dalam riset Dr. Carl Simonton, ahli kanker. Bersama isterinya, Stephanie Simonton, seorang psikolog, ia membukukan hasil risetnya dengan judul Getting Well Again. Sejumlah pasien kanker dinyatakan sembuh total berkat visualisasi motivasi mengapa harus sembuh (menumbuhkan the will to live) atau visualisasi perlawanan sel-sel darah putih dalam tubuh terhadap sel-sel kanker.

Bagaimana Sikap Kita?
James Redfield, pengarang The Celestine Prophecy, melihat adanya kegelisahan sekelompok orang yang mengalami ketidakpuasan terhadap jawaban akan makna kehidupan. Mereka kemudian melakukan pencarian batin secara intensif. Dalam waktu relatif singkat, New Age telah menarik hati banyak orang di pelbagai penjuru dunia. Di tahun 1960-an, ribuan orang generasi Hippies berbondong-bondong pergi ke India untuk mendalami pengalaman batin. Di tahun 1970-an berkembang dengan pesat aliran Human Potential Movement yang merupakan perpaduan antara humanisme sekular dan kebatinan. Seorang guru spiritual tersohor, Maharishi Mahesh Yogi, yang pernah menjadi guru spiritual The Beatles mempopulerkan Transcendental Meditation yang masih dipraktekkan hingga kini. Di kalangan selebritis Amerika dan Eropah, kita bertemu dengan antara lain Shirley MacLaine, Nancy Reagan, Bob Dylan, Tom Cruise, dan John Brodie yang merupakan pengikut setia New Age. Bahkan Tom Cruise, dalam suatu jumpa pers, mengatakan bahwa isteri terbarunya, Katie Holmes, harus berganti nama. Sebab nama Katie Holmes terlalu berbau kristiani. Sementara mereka telah beralih ke agama baru yang disebutnya Scientologi (bendera baru New Age?) Dan Brown, pengarang The Da Vinci Code, novel sensasional isapan jempol, juga menyampaikan pesan New Age tentang berakhirnya kekristenan seiring dengan peralihan era Pisces ke era Aquarius. Mengikuti metode kryptografi, kita juga dapat melihat bahwa nama “D a n B r o w n” mengandung kode tersembunyi. Setelah diteliti, ternyata nama itu memuat kode “BaD worm” (n+n=m), “ulat/kutu jahat” perusak sejarah.

Orang-orang muda yang mulai bergabung dalam aliran ini tidak langsung disodori bacaan-bacaan penelitian psikologis yang kompleks. Mereka biasanya diberikan pemahaman dasar melalui musik dan bulletin-buletin khusus. Bagi penganut New Age, musik merupakan jalan bagi pencarian batin. New Age memang punya daya tarik tersendiri.

Tak disangkal kenyataan bahwa aliran New Age punya aneka sisi positif. Dialog antar-iman modern mengingatkan kita akan perlunya mempelajari tradisi religius para tetangga, baik Barat maupun Timur. Gerakan pelestarian ekologis yang dilakukan para pengikut New Age juga menjadi seruan etis Gereja. Namun perlu juga disadari bahwa banyak unsur ajaran New Age tidak cocok dengan ajaran Gereja. New Age menolak hakikat Allah yang personal, pewahyuan melalui Yesus Kristus, misteri kasih Allah, inkarnasi Allah menjadi manusia dalam diri Yesus, karya keselamatan melalui Yesus, adanya Roh Kudus, adanya Gereja yang didirikan Yesus, pengadilan akhir zaman, dan lain sebagainya. New Age meyakini astrologi yang melihat jalan hidup manusia ditentukan oleh posisi perbintangan pada saat kelahiran. Mereka percaya akan reinkarnasi juga akan spiritisme di mana orang dapat berkomunikasi dengan roh orang mati melalui seorang medium. Seperti keyakinan pengikut New Age akan perembesan roh semesta dalam alam raya, tidak tertutup kemungkinan bahwa benih-benih pandangan yang tidak kompatibel dengan Gereja juga dapat merembes ke dalam pandangan religius umat beriman.

Tentang peralihan era Pisces ke era Aquarius, ada hal kecil yang hendak disampaikan. Penulis sangat tidak paham tentang Astrologi. Ketika dicoba melihat sekilas ramalan astrologis di aneka majalah, ternyata posisi bintang Pisces (18 Pebruari-20 Maret) berada sesudah bintang Aquarius (20 Januari-17 Pebruari). Dari urutan ini, bukankah justru era Pisces telah menggantikan era Aquarius? Dalam sejarah kita tahu bahwa Kekristenan awal tumbuh dalam persengketaan dengan aliran Gnostisisme Yunani kuno yang baru menyurut pada abad ke-3. St. Ireneus menulis banyak hal untuk melawan aliran ini. Apakah New Age merupakan Gnostisisme era baru?

Mohon waspada untuk tidak juga jatuh ke dalam penalaran logika yang sesat. Memang dikatakan bahwa New Age mempraktekkan aneka penyembuhan alternatif, seperti: energi prana, visualisasi, inner healing, meditasi, relaksasi, atau mewujudkan diri melalui kelompok pencinta alam, gaya hidup alami, dan sebagainya. Namun orang yang mempraktekkan hal-hal di atas belum tentu (non sequitur) merupakan pengikut New Age. Hati-hati agar tidak jatuh ke dalam sesat-nalar sofistik.

Seiring dengan semboyan kaum New Age: “kembali ke alam”, mari kita menyerukan bersama semboyan “kembali ke Injil”. Di sana terdapat jawaban-jawaban yang dicari oleh rusa-rusa yang mendamba air. Di sana kita dapat menemukan energi rahasia yang akan memuaskan kehausan manusia modern; rahasia tentang Kasih yang merupakan jalan persatuan (via unitiva) umat beriman dengan Allah-Cinta.

Apakah New Age adalah agama baru di era baru ini masih butuh telaah lebih dalam. Untuk sementara, yang terlihat dengan gamblang adalah bahwa New Age merupakan sinkretisasi antara humanisme sekular, agama-agama, filsafat Timur, psikologi modern, dan aneka praktek okultisme. Pelaku dialog antar-iman mana pun tidak pernah bermimpi untuk membuat sinkretisme seperti ini. Ideologi pantheistik yang menyamakan Allah dengan ciptaan juga harus ditolak. Pandangan ini jelas terjebak ke dalam kontradiksi ketika Allah yang tak berubah dan tunggal harus (niscaya) tercakup dalam perubahan dan keanekaragaman dunia. Karena determinasi-determinasi dan cara-cara penampakan juga secara niscaya mempengaruhi dan mengalir dari dasar eksistensi.

John Naisbitt, penulis Megatrends Asia, berujar provokatif: “Spirituality Yes, Organized Religion No”. Beberapa dasawarsa yang lalu, dunia biasanya berarti dunia Barat. Kini, manusia memasuki era proses Timurisasi dunia (Easternization of the world). Memang begitukah trend era baru kita?

Lianto (Publikasi: Majalah Duta November 2006)

Kebangkitan Gnostik Era Baru



Akhir-akhir ini wacana umum diramaikan dengan pembicaraan tentang adanya tulisan-tulisan Gnostik. Dan Brown melalui The Da Vinci Code (DVC) mengangkat gagasan itu melalui Injil Filipus dan Injil Maria Magdalena dan dalam pelbagai istilah dan nama tokoh yang dipakai dalam karyanya. Setelah DVC tenggelam, wacana berjubah gnostis ditampilkan dengan publikasi Injil Yudas (lihat: Injil Yudas: Bangkitnya Gnostisisme). Gnostik atau Gnostisisme bukanlah aliran baru. Aliran ini telah ada sejak abad ke-2 M. Semangat aliran ini terus bermunculan dalam sejarah dengan “bendera” yang berbeda-beda. Di era postmodern kita, jiwa aliran Gnostik menampakkan diri lagi, entah dalam “jubah” atau “bendera” apa. Untuk dapat mengenal identitasnya, kita harus mengetahui semangat dan “wajah”-nya dalam sejarah.

Sekilas tentang Gnostik
Gnostik atau Gnostisisme adalah gerakan filosofis-religius yang dikaitkan dengan agama-agama misteri dan paham keselamatan pribadi. Agama misteri yang berasal dari Yunani (Orfisme) atau dari Timur (Mithraisme) menekankan adanya ritus rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang yang telah diinisiasi. Sama seperti agama misteri, Gnostik mengklaim bahwa kebijaksanaan (pengetahuan) rahasia hanya diberikan kepada orang-orang dalam kelompok mereka melalui inisiasi. Ritus-ritus mitis dan magis digunakan untuk melindungi orang-orang yang sudah diinisiasi dari dunia setan-setan.

Dalam sejarah, Gnostisisme jatuh bangun bersaing dengan Kekristenan. Aliran ini mencapai puncaknya pada paruh kedua abad ke-2 M. St. Ireneus dari Lyons (130-200) mengembangkan gagasan Regula Fidei (aturan iman) sebagai norma atau patokan umum untuk menentukan pewahyuan sejati oleh Kristus kepada Gereja. Hal ini dilakukan untuk melawan kaum gnostik yang meyakini adanya pewahyuan khusus bagi orang-orang pilihan. Gerakan ini menyurut pada abad ke-3. Berbagai sekte dan aliran dengan nafas yang sama muncul-tenggelam dalam roda zaman hingga sekarang. Pengetahuan yang luas tentang gerakan ini baru dapat digali sejak 1945, ketika di Nag Hammadi (Mesir) ditemukan 52 dokumen gnostik yang ditulis dalam bahasa Koptik dan berasal dari abad ke-4 M. Dan pada tahun 1970-an ditemukan papirus yang diidentifikasi sebagai Injil Yudas, yang diperkirakan ditulis antara tahun 220-340 dalam bahasa Koptik.

Pandangan Pokok Gnostik
Akar dari Gnostisisme adalah dualisme yang melihat secara tajam dan dikotomis unsur roh dan materi, baik dan jahat, terang dan kegelapan. Aliran ini menampilkan dua tokoh utama di sisi terang, yakni: Sang Ibu Agung dan Sang Manusia Pertama. Sang Ibu Agung diyakini sebagai Dewi Langit, disebut dengan nama Sophia (bdk. nama Sophie dalam tokoh DVC), turun ke dalam dunia material. Sang Manusia Pertama telah ada sebelum dunia ini. Ia muncul ke dunia untuk memerangi kejahatan. Ia disebut juga sebagai Soter, Sang Penyelamat. Tugasnya adalah membebaskan Sophia dan orang-orang yang telah menerima pengetahuan rahasia (pengikut Gnostisisme). Persatuan Soter dan Sophia mengisyaratkan keselamatan. Dalam sekte-sekte yang menonjolkan peranan Sophia, pelacuran religius berperan penting, kadang dalam hubungan dengan Sang Soter. Para pembaca DVC bisa menyimak kembali bagaimana seorang Dan Brown telah dengan indah membungkus inti ajaran Gnostik dalam novel thriller yang penuh ketegangan.

Gnostik Kristiani (sebagian dari mereka yang menjadi kristen) melihat keselamatan sebagai pembebasan unsur rohani dari unsur materi yang jahat. Mereka menolak inkarnasi Kristus karena tubuh (materi) adalah jahat. Allah yang rohani tidak mungkin menjelma ke dalam materi yang jasmani. Mereka juga menolak (atau mengubah) tradisi dan Kitab Suci. Gnostik Kristiani yakin bahwa mereka memperoleh pengetahuan istimewa dari tradisi dan pewahyuan rahasia yang mereka terima. Injil Maria Magdalena (seperti dilukiskan dalam DVC) mengisyaratkan adanya pengetahuan rahasia yang diberikan khusus kepada Maria dan tersembunyi bagi murid-murid Yesus yang lain. Inilah sebabnya Injil Maria Magdalena termasuk kategori tulisan gnostik.

Wajah Gnostisisme Sepanjang Zaman
1. Doketisme
Bidaah yang hidup pada masa awal Gereja ini mengajarkan bahwa Putra Allah hanyalah seolah-olah saja seperti manusia. Mereka menolak realitas jasmaniah Kristus. Yang disalibkan sesungguhnya bukanlah Yesus, tetapi orang lain, misalnya Simon dari Kirene. Baru-baru ini Michael Baigent (penulis The Blood and the Holy Grail dan The Dead Sea Scroll Deception) kembali mencoba mengguncang iman kristiani dengan The Jesus Papers yang memaparkan teori tentang kematian palsu Yesus dan surat-surat Yesus yang ditujukan kepada Sanhedrin. Isi Injil Yudas amat kental pengaruh aliran ini.

2. Manikeisme
Berasal dari seorang bernama Mani, lahir di Persia sekitar tahun 215. Ia memadukan Zoroastrianisme, Budhisme, Gnostisisme, dan Kristianisme menjadi satu aliran. Mani menganggap diri mengikuti nabi-nabi PL, Zarathustra, Budha, dan Yesus untuk membebaskan percikan cahaya dalam diri manusia dan dengan demikian membebaskan mereka dari kejahatan.

3. Bogomil
Sekte yang juga bercorak dualistik ini muncul pada Abad Pertengahan. Pendirinya dikaitkan dengan seorang imam bernama Yeremias atau seorang yang bernama Teofilus. Pandangan dualisme yang ekstrem membuat penganut aliran ini menolak segala tindakan berbau “material” seperti penghormatan terhadap ikon (gambar) termasuk salib, baptisan dengan air, baptisan bayi, dan lain-lain. Sekte ini berkembang di daerah Balkan, terutama Bulgaria. Sejak masuknya orang-orang Turki, banyak pengikut sekte ini menjadi Islam.

4. Albigensianisme
Bidaah ini berkembang di Perancis selatan pada Abad Pertengahan. Aliran ini juga melihat keselamatan sebagai pembebasan jiwa dari tubuh, menganggap jahat hal-hal jasmaniah, dan dengan demikian menolak inkarnasi, sakramen-sakramen, dan kebangkitan tubuh. Pada tahun 1215 bidaah ini dinyatakan salah dalam Konsili Lateran IV.

5. New Age Movement: Gnostik Era Baru
Di zaman post-modern ini, dunia kembali diwarnai kebangkitan baru Gnostisisme dalam gerakan New Age. Gerakan ini merupakan sinkretisme dari Kristianisme dan pelbagai aliran kuno Timur seperti Budhisme dan Taoisme (informasi lebih lengkap lihat: New Age Movement; "Agama" Baru?). Gerakan ini mencanangkan kebaruan zaman yang akan beralih dari kekristenan yang dilambangkan oleh rasi pisces ke New Age yang dilambangkan oleh rasi Aquarius. Dan Brown dalam DVC juga menyampaikan pesan serupa: berakhirnya masa rasi Pisces digambarkan sebagai berakhirnya kekristenan.

DVC dari Brown dan pelbagai karya sejenis (The Blood and the Holy Grail, The Dead Sea Scroll Deception, The Jesus Papers, dan The Lost Tomb of Jesus) menyampaikan pesan yang sama. Entah metode pemecahan kode Brown ada atau tidak ada, di dalam karya-karya sensasional tersebut jelas terkandung “kode” nafas Gnostisisme yang pernah tenggelam dalam sejarah. Gereja era baru harus berhadapan dengan tantangan ini. Perang pena tak bisa dihindari lagi. Dalam pandangan mata yang menyingkapkan kulit luar realita, kita bisa melihat kesejatiannya: kebangkitan Gnostisisme dalam media massa! Di semak belukar tulisan-tulisan berkedok sastra, Gnostisisme mengendap-ngendap mengincar mangsa.

Lianto