Showing posts with label Christology. Show all posts
Showing posts with label Christology. Show all posts

Tuesday, March 16, 2010

Kebangkitan Yesus, Fakta Historis?



Sebagian orang tidak pernah atau merasa tidak relevan meragukannya. Kebangkitan Yesus tertulis dalam Injil. Habis perkara. Ada yang mempertanyakan apakah kebangkitan itu fakta historis? Ataukah hanya fiksi atau suatu episode yang dibuat untuk mengenang Yesus? Bisakah Injil dipercaya sebagai rekaman atas peristiwa yang betul-betul terjadi? Jika kebangkitan itu fakta historis, bagaimana rupa Yesus yang bangkit itu? Puluhan pertanyaan dapat diajukan berkaitan dengan kebangkitan.

Kritisisme atas naskah kuno mengangkat berbagai wacana tentang redaksi berlapis, otentisitas, dan warna sastra tertentu yang mewarnai ayat demi ayat Kitab Suci. Hal itu telah menimbulkan kesangsian dan pertanyaan seputar mana bagian kisah yang otentik dan mana yang tidak. Jika orang tidak percaya atau meragukan apa yang tertulis dalam Injil perihal kebangkitan, saya memang tidak memiliki sumber lain untuk menyambung pembicaraan. Mengapa? Karena tidak ada teks tertulis lain yang ada di tangan kita tentang kebangkitan Yesus selain Injil.

Untuk menyambung pembicaraan, seraya mengabaikan detail kisah kebangkitan, saya mengajak pembaca berlogika-ria untuk menemukan apa yang ada di balik rekaman Injil tentang kebangkitan Yesus.

Perempuan dan Kubur Kosong
Saya pilih Injil Markus karena inilah Injil tertua. Mrk 16:1-8 mencatat kejadian tiga perempuan yang pada pagi-pagi di hari pertama Minggu, pergi ke makam Yesus untuk meminyaki-Nya. Setelah sampai di sana, mereka mendapati makam Yesus kosong. Dari orang muda berjubah putih di samping kanan makam, mereka mendapat kabar bahwa Yesus telah bangkit. Oke, saya ikut abaikan detail kisah yang dituliskan. Lagipula tidak berguna jika orang tidak memercayainya. Saya hanya mau menggarisbawahi “perempuan” dalam rekaman Injil ini.

Ada masalah apa dengan “perempuan”? Di kalangan Yahudi, perempuan adalah makhluk yang tak bisa dipercaya. Mereka tidak diperkenankan menjadi saksi dalam pengadilan. Omongan yang keluar dari mulut perempuan dianggap “bullshit”. Dalam konteks ini, adalah suatu kebodohan bagi Markus menuliskan kisah kebangkitan yang dahsyat, yang disaksikan dan disampaikan kepada orang lain oleh tiga perempuan. Kita tidak merasakan adanya perbedaan kebenaran yang disampaikan oleh seorang perempuan atau laki-laki. Tapi di zaman Yesus, hal itu hanya akan mengundang tertawaan. Tapi Markus tetap menuliskannya. Hal ini menyiratkan bahwa apa yang tertulis memang demikianlah adanya. Dengan alur pikir seperti ini, saya mengajak Anda untuk menerima bahwa peristiwa kunjungan ketiga perempuan dan kubur yang kosong benar adanya. Anda dipersilahkan untuk mengabaikan detail lain yang mungkin bagi Anda hanya isapan jempol belaka.

Perubahan Karakter Para Murid
Berbeda dengan peristiwa kebangkitan, penyaliban dan kematian Yesus telah terbukti dalam sejarah. Jika Anda meragukan kesaksian Injil, Anda dapat membacanya dari kesaksian sejarahwan Yahudi abad pertama: Flavius Yosefus. Penyaliban dan kematian Yesus merupakan tragedi paling mengenaskan bagi para pengikut-Nya. Diberitakan dalam Injil bahwa para pengecut itu lari pontang-panting ketika Yesus ditangkap. Kebanyakan dari mereka hanya berani melihat dari kejauhan ketika Yesus disiksa dan disalibkan. Petrus, komandan dari keduabelas rasul bahkan menyangkal diri sebagai murid-Nya sampai tiga kali. Dasar si mulut besar! Percakapan kedua murid di jalan menuju Emaus juga memperlihatkan kekecewaan yang besar atas harapan mereka terhadap figur Yesus. Singkat cerita, bagi para pengikut-Nya, kematian Yesus merupakan akhir cerita. Tamatlah sudah!

Lalu apa? Mengapa para pengecut itu dalam waktu tidak lama setelah kematian Yesus tiba-tiba menjadi pemberani? Mereka sampai berani mengorbankan nyawa. Stefanus dirajam. Petrus si Mulut Besar disalibkan terbalik, Paulus yang awalnya mengejar para pengikut menjadi pewarta tangguh. Apakah menurut Anda, mereka ini adalah orang-orang gila? Pasti ada suatu kejadian LUAR BIASA setelah kematian Yesus yang powerful untuk mengubah sikap mereka. Mungkin peristiwa itu adalah, atau dekat, atau mirip, atau hanya dapat diungkapkan dengan istilah “bangkit”. Peristiwa itu pasti ada karena tak mungkin orang mau mengorbankan nyawa untuk sesuatu yang bagi dirinya sendiri tidak ada. Peristiwa itu pasti benar karena ingatan orang-orang yang hidup di zaman itu masih segar dan dengan gampang dapat diklarifikasi sekiranya apa yang diwartakan merupakan kebohongan.

Dengan logika ini, sekiranya Anda tidak percaya akan kebangkitan hanya karena lemahnya bukti, Anda harus percaya bahwa setelah kematian Yesus, suatu peristiwa luar biasa telah terjadi. Peristiwa yang berdaya agung untuk mengubah manusia pengecut menjadi pemberani, pendendam menjadi pengasih, pemarah menjadi peramah, dan peristiwa yang kebenarannya telah teruji oleh waktu. Muskil rasanya ada kebohongan yang dapat bertahan hingga 20 abad. Dengan alur pikir ini, tidak penting apakah kebangkitan itu fakta historis atau hanya simbol belaka. Terserah Anda mau terima yang mana.

Ungkapan pemikiran ini ditulis dengan asumsi Anda tidak memercayai atau meragukan kesaksian Injil. Jika Anda tidak punya masalah seperti itu, disarankan agar terus menimba kekayaan Injil dan buang jauh-jauh pemikiran saya dalam tong sampah. Selamat Paskah!

Lianto

Yesus Ngamuk: Ekspresi Kontra Ketidakadilan



Sehari setelah memasuki kota Yerusalem, Yesus menuju Bait Allah. Di situ Ia menjungkirbalikkan meja dagangan orang (penukar uang dan pedagang merpati). Kejadian ini sering dilihat secara negatif sebagai tindakan temperamental. Mengapa Yesus “ngamuk”? Tinjauan konteks religio-historis berikut ini mungkin bisa sedikit klarifikasi.


Pada masa Yesus, Yerusalem merupakan pusat keagamaan bangsa Yahudi. Menjelang Paskah Yahudi, orang Yahudi dari seluruh pelosok negeri datang ke Yerusalem untuk merayakan hari terbesar dalam almanak liturgi ini. Belum ada catatan tentang jumlah massa yang berkumpul pada pesta raya ini. Namun Flavius Yosefus (sejarawan Yahudi abad pertama) pernah mencatat bahwa sebanyak 255.600 ekor domba dipotong dan disantap pada suatu perayaan Paskah di Yerusalem. Jika seekor domba disantap oleh 10 orang, maka diperkirakan 2,5 juta orang berkumpul di Yerusalem pada pekan ini. Obyek kunjungan terutama adalah Bait Allah yang menurut tradisi Alkitab berada di puncak bukit tempat Abraham mempersembahkan kurban. Bait Allah ini dikuasai oleh imam-imam kepala yang dipimpin oleh Imam Agung Kayafas.

Tidak semua orang dapat mengambil bagian dalam ritual Bait Allah. Terdapat banyak aturan yang harus dilewati orang untuk dapat memasuki tempat kudus ini. Orang harus menyucikan diri terlebih dahulu dalam kolam penyucian agar pantas masuk Bait Allah. Penggalian arkeologis masa kini menemukan adanya kolam-kolam untuk ritual penyucian ini. Bayaran yang mahal untuk penyucian harafiah itu tidak akan sanggup dilakukan oleh orang miskin. Ritual penyucian mengondisikan penyaringan orang apa yang dikehendaki para imam untuk masuk Bait Allah. Menurut Kitab Misnah (aturan ritual), orang cacat, buta, sakit, dan lumpuh dilarang masuk kolam penyucian. Barangkali hal inilah yang membuat Yesus “gerah”. Reformasi Yesus: semua orang berhak atas rahmat kebaikan Allah tanpa rintangan finansial.

Di samping itu, orang masih harus menukar uangnya dengan koin Bait Allah yang suci. Tentu dengan nilai kurs yang ditentukan imam-imam kepala. Koin suci itu dipakai untuk membeli merpati putih tak bernoda untuk korban persembahan. Inilah yang menjelaskan keberadaan money changer dan pedagang merpati di halaman Bait Allah. Perlawanan Yesus atas komersialisasi dan ketidakadilan Bait Allah diungkapkan dengan menjungkirbalikkan meja dagangan dan gagasan amat berani: peruntuhan Bait Allah. Semua ini menyebabkan Yesus dilihat sebagai figur yang berbahaya.

Aturan dibuat demi ketertiban umum. Barangkali ini argumen para imam kepala. Dalam kasus Bait Allah, aturan yang sangat berbau komersial tak bisa dijunjung karena telah bertentangan dengan aturan (hukum) yang lebih tinggi, yakni keadilan. Tindakan Yesus di halaman Bait Allah tidak lain sebagai ungkapan perlawanan terhadap ketidakadilan yang terjadi di masa itu. Dari awal kiprah-Nya di Kapernaum dan sekitarnya, Yesus telah menjatuhkan optio fundamentalis-Nya: memperjuangkan keadilan Kerajaan Allah. Mau tak mau Ia harus berhadapan dengan status quo penguasa keagamaan. Ia mendekati orang-orang marjinal yang dianggap najis oleh Taurat, menyembuhkan orang sakit pada hari terlarang (Sabat), mengampuni dosa, dan menyambut para “kafir” (menurut tafsiran para imam: orang Samaria dan orang-orang non-Yahudi).
Tindakan Yesus menyampaikan dua hal. Pertama, apa yang dilakukan Yesus merupakan ekspresi klimaks dari sikap kontra ketidakadilan. Kedua, aturan dan hukum hendaknya tidak mematikan cinta kasih dan keadilan. Aturan dan hukum akan selalu mempunyai “lubang” ketika berhadapan dengan kasus-kasus moral yang belum terpikirkan oleh si pembuat hukum tatkala merumuskannya. Dibutuhkan tafsiran atas hukum bukan berdasarkan apa yang tertulis, melainkan maksud dan semangat yang tersirat di dalamnya (epikeia). Thomas Aquinas melihat epikeia ini sebagai suatu keutamaan (virtue). Ini bukan usaha pelarian orang dari kewajiban tertentu, melainkan tanggapan dan junjungan untuk hukum yang lebih tinggi: keadilan.

Saturday, July 26, 2008

Kelahiran Yesus: Teologi atau Sejarah?



Sebagian orang mungkin dibingungkan oleh tulisan Injil-injil Perjanjian Baru seputar kelahiran Yesus. Kisah kelahiran Yesus ditemukan dalam Injil menurut Matius dan Lukas. Keduanya memberikan detail yang berbeda. Lukas menyajikan kisah masyhur tentang perjalanan Yosef dan Maria yang melelahkan dari Nazareth ke Betlehem. Setiba di sana, tibalah saat bagi Maria untuk melahirkan. Bayi Yesus yang dilahirkan dibaringkan di palungan. Mereka harus berbagi tempat dengan hewan di kandang karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.

Matius tidak menyebut tentang perjalanan itu. Mereka telah ada di Betlehem. Dan Maria melahirkan bayinya di rumah. Apakah bagi Matius, kisah perjalanan Nazareth-Betlehem tidak penting? Di lain sisi, Matius bertutur tentang kunjungan orang-orang majus dari Timur dan bicara soal perbintangan. Namun Lukas sepertinya tidak berminat dengan hal itu. Lukas menulis tentang para gembala yang mendapat anugerah pertama menerima warta keselamatan. Siapa gerangan orang-orang majus itu? Siapa gerangan para gembala? Lazimkah sebuah bintang mula-mula berjalan menuju Yerusalem kemudian melesat ke arah Betlehem? Bagaimana fakta sejarah (bila itu maksud tujuannya) dijelaskan oleh dua data yang berbeda?

Tatkala pertanyaan-pertanyaan ini menempel ke langit-langit kepala, rasa puyeng melanda. Apakah cerita itu hanya isapan jempol belaka? Peristiwa kebangkitan adalah jawabannya. Kuncinya: iman kebangkitan menjadi titik tolak penulisan seluruh kisah. Teks-teks tentang kelahiran bukanlah teks tertua, melainkan teks termuda yang muncul setelah dikenalnya seluruh teologi tentang Yesus, kematian, dan kebangkitan-Nya. Justru setelah semua bahan (perumpamaan, mukjizat, gelar-gelar Yesus, kisah sengsara, kebangkitan,...) tersusun rapi, muncul pertanyaan tentang awal: bagaimana kisah kelahiran-Nya. Bagi jemaat perdana ketika kedua Injil ditulis (80 - 90 M), jelas Yesus merupakan Mesias, Penyelamat, dan Putera Allah. Bertolak dari sudut pandang ini, jemaat menafsirkan peristiwa-peristiwa sekitar kelahiran Yesus. Dari hal ini jelas bahwa apa yang dilukiskan penulis lebih merupakan warta iman daripada sebuah jurnal sejarah. Benarlah kata Jürgen Moltman, seorang teolog Jerman, bahwa dalam Perjanjian Baru tidak ada iman yang tidak mulai a priori dengan kebangkitan Yesus. Matius maupun Lukas berangkat dari titik tolak yang sama, namun dengan tujuan sasaran yang berbeda. Pemilihan bahan, penekanan, dan redaksi bahan ikut ditentukan oleh kebutuhan jemaat sasarannya. Kondisi itulah yang menyebabkan perbedaan dalam detail kisah. Siapa sasaran tulisan mereka?

Injil Matius ditulis sekitar tahun 80-90 untuk lingkungan jemaat Kristen Yahudi. Maka dapat dimengerti mengapa Matius paling banyak mengutip Perjanjian Lama dibandingkan penulis Injil lainnya. Gelar Mesias mendapat tekanan kuat. Pada kepenuhan waktu, raja-raja dan bangsa-bangsa akan datang ke Yerusalem untuk menyembah-Nya (Yes. 60:6). Karena itu, Matius memuat kisah tentang orang-orang majus. Ilmu perbintangan juga tidak luput dari perhatian Matius. Kelahiran Abraham, Isaak dan Yakob juga diiringi terbitnya bintang di langit. Hal itu lumrah dikenal Yudaisme pada era Gereja perdana. Tampaknya teks-teks PL yang dipadukan dengan gejala astronomi mendorong Matius untuk menyusun cerita ini. Dengan itu Matius hendak mewartakan iman Gereja tentang Yesus sebagai Mesias yang datang pada kepenuhan zaman.

Astronomi sejak penemuan Yohanes Kepler mendukung cerita Matius. Dari perhitungan astronomis, orang tahu bahwa sekitar tahun 6 SM terjadi pertemuan (konjungsi) antara planet Jupiter dan Saturnus dalam konstelasi Pisces. Dalam astronomi, Jupiter (planet terbesar) melambangkan raja yang agung dalam semesta, sedangkan Saturnus adalah bintang kaum Yahudi. Konstelasi Pisces menandakan akhir dunia. Ketika konjungsi itu terjadi, orang-orang majus tahu pasti: di negeri Yahudi (Saturnus), seorang Raja Agung (Jupiter), pada kepenuhan masa (Pisces) telah lahir. Pendapat terkini memang mengatakan bahwa Yesus lahir pada zaman pemerintahan Herodes Agung, kemungkinan besar pada tahun 6 SM.

Injil Lukas juga ditulis antara tahun 80-90 untuk jemaat yang terdiri dari mayoritas bangsa bukan Yahudi. Itulah sebabnya Lukas lebih berminat pada figur gembala-gembala sederhana di padang Betlehem. Dengan warna teologis Lukas, para gembala dilihat sebagai wakil kaum miskin yang kepadanya Yesus diutus. Dalam kalangan Yahudi, para gembala adalah kelompok yang tersingkir. Pekerjaan mereka menjadikan mereka cacat di depan hukum. Dengan ini, Lukas mau menegaskan bahwa Yesus adalah Penyelamat bagi semua bangsa manusia.

Minat teologis, sifat, dan tujuan penulisan ternyata sangat menentukan redaksi para penulis Injil. Pemahaman akan sulit dijangkau bila pendekatan terhadap kisah Injil meleset dari aspek yang ditekankan atau dikehendaki penulis. Kisah dalam Injil (terutama kisah kelahiran Yesus) tidak dimaksudkan untuk laporan sejarah, melainkan lebih pada pewartaan dengan isi fakta, nubuat Kitab Suci, dan ungkapan iman zaman itu, yang diramu dan disajikan untuk kepentingan iman dan kebenaran yang hendak diwartakan.

Barangkali inilah alasan mengapa Gereja menyatakan kepada para pembaca untuk menangkap apa yang mau disampaikan Allah. Para penafsir harus mencermati apa yang mau disampaikan oleh para penulis suci; apa yang mau dinyatakan Allah melalui kata-kata mereka. Penting diperhatikan jenis-jenis sastra (Dei Verbum 12). Jenis sastra yang lazim dipakai pada masa PB adalah midrash haggadah. Gaya sastra ini mengambil suatu fakta atau ungkapan biblis, mengolah dan memperindahnya dengan tujuan untuk menggarisbawahi dan mewartakan kebenaran iman. Gaya inilah yang membungkus kisah kelahiran Yesus. Dalam gaya sastra ini terkandung pesan yang harus ditemukan dan diwartakan.

Bila kita ngotot dan menghabiskan waktu untuk mempermasalahkan historisitas setiap detail kisah kelahiran, kita akan kehilangan pesan yang ingin disampaikan. Dengan itu kita menempatkan diri di luar arena iman yang diciptakan Matius dan Lukas. Dalam arena itu, tidak perduli apakah bintang pernah muncul atau tidak; tidak perduli apakah benar orang-orang majus yang berkunjung atau para gembala. Hal utama adalah apa makna rohani kedatangan bayi mungil Yesus, yang harus disambut bukan terutama dalam dinginnya akal sedingin kandang Betlehem, melainkan di dalam kehangatan hati yang sarat iman.

Lianto
sumber utama: Leonardo Boff, Jesus Christ Liberator, A Critical Christology of Our Time

Thursday, July 24, 2008

Kebangkitan: Jangkar Iman Kristen


Injil tentang Yesus dari Nazareth ditulis dengan skema yang menyempit ke satu titik tema, yakni tema kebangkitan. Jürgen Moltman, seorang teolog Jerman, mengatakan bahwa dalam Perjanjian Baru tidak ada iman yang tidak mulai a priori dengan kebangkitan Yesus. Rangkaian kisah dalam keempat Injil bagaikan kumpulan premis untuk mendukung konklusi yang tak terbantah: “Yesus bangkit”. Kebangkitan adalah titik tolak iman kristiani. Tanpa pengalaman akan kebangkitan Yesus, tak akan ada iman Kristen. Tanpa kebangkitan, sulit dibayangkan akan ada penulis Injil yang mau membukukan kisah hidup seorang pecundang yang kalah di kayu salib.

Sejumlah pemikir modern mempertanyakan historisitas peristiwa kebangkitan Yesus. Kesaksian yang terekam dalam Injil dianggap tidak memadai untuk menjadikan kebangkitan Yesus sebagai fakta historis. Dalam Injil tidak ditulis bagaimana kebangkitan itu terjadi. Injil hanya mencatat kesaksian para murid atas penampakan Yesus di sejumlah tempat. Fakta kubur kosong hanyalah syarat yang diperlukan, tetapi sama sekali bukan syarat yang memadai bagi pembuktian. Dalih klasik adalah bahwa para murid pergi ke kuburan yang salah. Ada pula yang berpikir bahwa jenazah-Nya dipindahkan orang, atau dicuri oleh penguasa yang berkepentingan. Pendapat lain mengatakan bahwa murid-murid Yesus berhalusinasi. Apa pun yang dikatakan, kiranya lebih mungkin dan logis untuk mempercayai kebenaran peristiwa kebangkitan daripada menafikannya.

Kenyataan kesaksian Injil tidak mencatat bagaimana kebangkitan terjadi justru menunjukkan apa yang tertulis bukanlah isapan jempol. Mengapa mereka tidak mengarang cerita yang spektakuler dan sensasional yang lengkap dengan detail isi dan bentuk kebangkitan? Itu tidak terjadi karena mereka memberikan kesaksian apa adanya. Dalih tentang “kuburan yang salah” juga tak punya dasar. Sulit dibayangkan bahwa “kuburan yang benar” sama sekali dilupakan dalam waktu relatif singkat. Dan apabila dalam “kuburan yang benar” masih berisikan jenazah Yesus, kenapa para imam (yang berpaham Saduki) tidak menjadikan itu sebagai bukti untuk membuyarkan kabar kebangkitan yang sangat mereka lawan? Dugaan bahwa jenazah Yesus dicuri oleh lawan-lawan-Nya, lebih tidak masuk akal. Sebab dengan tindakan itu, mereka justru menciptakan berita kebangkitan.

Bagaimana dengan tuduhan halusinasi? Halusinasi adalah fenomena pribadi. Yesus menampakkan diri kadang-kadang kepada satu atau dua orang. Di tempat lain, Ia menampakkan diri kepada kesebelas murid-Nya, bahkan kepada pengikut yang berjumlah 500-an orang, baik laki-laki maupun perempuan. Mungkinkah ratusan orang mengidap halusinasi pada tempat dan waktu yang sama?

Kenyataan yang tak kalah penting adalah transformasi radikal di antara para murid Yesus. Mereka adalah orang-orang yang kalah dan putus asa setelah penyaliban Yesus. Ketika Yesus ditangkap, mereka lari pontang-panting. Setelah penyaliban pun tidak jauh beda. Mereka bersembunyi di rumah-rumah. Tapi setelah kebangkitan Yesus, mereka berani memberi kesaksian kendati harus menderita; ditangkap, dipenjara, bahkan dihukum mati. Adakah orang yang rela mempertaruhkan nyawa demi sesuatu yang bagi mereka sendiri merupakan penipuan? Paulus, seorang terpelajar yang tak mudah percaya; sangat benci pengikut Yesus, adalah bukti istimewa. Setelah menyaksikan Yesus di jalan menuju Damsyik, ia mengabdikan seluruh hidupnya untuk mewartakan kabar kebangkitan. “…. andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami, dan sia-sialah juga kepercayaan kamu”, tulis Paulus kepada jemaat di Korintus. Argumen Paulus di sini sangat jelas. Yang membuat Injil itu benar dan iman kita otentik adalah kebangkitan Yesus.

Jemaat perdana juga merayakan hari kebangkitan sebagai ganti hari Sabat. Andaikata kebangkitan Yesus adalah peristiwa akal-akalan, rasanya terlalu muskil bagi orang Yahudi untuk menggantikan Sabat dengan perayaan kebohongan. Dan dalam sakramen baptis, mereka meyakini diri dikuburkan bersama Kristus dan dibangkitkan bersama Dia (Kol. 2:12). Tampaknya pengalaman kebangkitan memberi makna kepada semua yang mereka pikirkan, lakukan, dan wartakan.

Benar bahwa iman juga perlu historis. Namun kita manusia terbatas yang hidup di dunia yang terbatas pula. Fakta kubur kosong melambangkan kenyataan bahwa karya penyelamatan Allah di dalam dunia tidak dapat sepenuhnya dijelaskan oleh logika dan sejarah. Kekosongan kubur Yesus akibat peristiwa kebangkitan merupakan ruang (isi) ilahi dalam sejarah dunia. Ruang ilahi ini tidak mempunyai tempat bagi penelitian dan perdebatan logika manusia. Jeda sejarah yang tercipta karena kebangkitan Yesus melampaui segala daya rasionalita.

Kebangkitan Yesus adalah jangkar Perjanjian Baru. Perjanjian Baru tanpa kebangkitan bagaikan kapal yang terlepas dari jangkarnya, terombang-ambing tanpa arah dan tujuan. Tanpa kebangkitan, tidak akan ada kekristenan, sebab kisah Yesus telah berakhir di Golgota. Keberadaan kekristenan dari abad-abad mula hingga abad kita di panggung dunia juga bukti nyata bahwa kesaksian rasuli tentang kebangkitan bukanlah isapan jempol belaka.

Lianto (Publikasi: Majalah Duta April 2007)

Yesus Historis, Siapa Takut?


Akhir-akhir ini wacana tentang hidup Yesus dimeriahkan oleh pelbagai tulisan dan pandangan yang mengklaim diri sebagai penemuan atas Yesus-historis. Dua karya yang ramai dibicarakan adalah The Da Vinci Code (DVC) dan The Lost Tomb of Jesus (LTJ). Yang pertama (DVC, karya Dan Brown) merupakan novel thriller-fiktif yang mencoba meyakinkan pembaca akan historisitas sejumlah fragmen yang dipaparkan sebagai latar belakang cerita. Yang kedua adalah film dokumenter dari James Cameron yang berusaha mengidentikkan diri sebagai hasil penemuan arkeologis atas kuburan Yesus sekeluarga di Yerusalem. Keduanya menuai kritik dan perlawanan sengit karena dinilai sebagai karya yang mengaburkan kebenaran iman akan pribadi Yesus Kristus.

Antara Yesus dan Kristus
Pertama-tama harus dibedakan antara Yesus-historis dan Yesus-iman (yang diimani). Keduanya berkaitan erat, tapi tidak identik. Yesus-iman adalah ungkapan penghayatan umat perdana akan pribadi Yesus-historis yang diteruskan ke generasi-generasi berikutnya hingga sekarang. Injil sendiri, yang ditulis pada paruh kedua abad pertama, merupakan penghayatan iman akan pribadi Yesus yang tertulis dalam terang Roh Kudus. Interval waktu yang terbentang antara Yesus-historis dan Yesus-iman menciptakan nuansa-nuansa kecil yang meskipun tidak sampai bertentangan, namun tidak jarang terdapat perbedaan. Orang yang terikat dengan gambaran Yesus-iman dapat tergugah (kalau tidak sampai terguncang) bila dihadapkan dengan gambaran Yesus-historis. Baginya, apa yang diketahui dan dihayati selama ini tidak sama dengan gambaran baru yang disodorkan.

Perlawanan dan pembelaan yang diarahkan kepada Dan Brown “dan kawan-kawan” menghasilkan polemik yang carut marut. Hal ini terjadi karena kedua kubu berangkat dari titik tolak dan perspektif yang berbeda. Wacana ilmuwan berangkat dari perspektif Yesus-historis. Dan umat beriman mencoba menampiknya dari perspektif Yesus-iman. Yang perlu dilakukan adalah verifikasi; sejauh mana uraian para ilmuwan/seniman tentang Yesus-historis sungguh benar. Satu-satunya cara adalah kita juga harus menggali ulang Yesus-historis. Tentu saja tidak ada yang murni historis. Sebagaimana historisitas kaum ilmuwan juga tidak murni ilmiah. Selalu ada unsur interpretasi subyektif dalam semua kesimpulan atas data-data yang diperoleh. Tidak ada teks atau penelitian yang tidak bisa dimasukkan ke dalam struktur yang dibangun dari sejumlah wawasan kepentingan (Leonardo Boff). Penelitian sejarah, sekalipun dilaksanakan dengan sumber sebanyak-banyaknya dan memakai metode sebaik-baiknya, tetap hanya mampu menghasilkan kemungkinan-kemungkinan (James H. Charlesworth).

Keseimbangan: suatu Keperluan
Menelusuri dan mempelajari Yesus-historis di era kita menjadi suatu keperluan. Umat beriman tidak perlu takut atau was-was untuk mendekati ranah ini. Kekristenan yang bertahan dan terus berkembang selama 20 abad pastilah mengindikasikan kebenaran. Mustahil rasanya bila suatu kebohongan dapat bertahan dalam rentang waktu dan generasi yang tidak pendek. Yesus yang diimani tentu masih Yesus historis yang melewati bias-bias zaman (waktu).

Di usia memasuki abad ke-21 ini, Gereja terpanggil untuk mempertanggungjawabkan imannya serasional mungkin. Gereja era baru kita tidak lagi bisa hanya mewartakan Kristus, melainkan harus pula menggali dan mewartakan kesinambungan antara Yesus-historis dan Yesus-iman. Kesenjangan yang terbentang antara Yesus dan Kristus harus dijembatani. Orang yang bertolak dari Yesus-historis menuju iman akan Yesus niscaya lebih tahan banting. Pendekatan kita kepada Yesus-historis dapat membuka mata dan pikiran akan adanya konspirasi rapi dari sejumlah ilmuwan/seniman untuk menciptakan gambaran Yesus yang berbeda radikal dari apa yang kita percayai selama ini.

Di satu sisi, pewartaan yang terlalu menekankan Yesus-iman dan mengabaikan Yesus-historis dapat menciptakan pengasingan. Gelar-gelar dan aneka dogma yang meliputi wajah Yesus dapat menyembunyikan wajah manusiawi Yesus dan menyingkirkan-Nya dari sejarah. Kristologi yang dikembangkan tidak menginjak tanah. Di era baru, teologi bertugas membebaskan Yesus dari rantai yang membelenggu-Nya untuk mendekati manusia. Mengimani Yesus berarti mampu untuk mendengarkan suara-Nya yang berbicara dalam situasi hidup kita. Seseorang bisa saja mengatakan percaya akan Yesus sebagai Mesias, Tuhan, Putra Allah, dan sebagainya seraya mengabaikan apa makna gelar itu bagi hidup nyata.

Di lain sisi, tidak kalah penting mencegah penilaian berat sebelah. Skeptisisme yang berlebihan dan tak beralasan tidak lebih kritis daripada menerima apa pun yang disediakan begitu saja. Banyak hal yang mengklaim diri sebagai kritisisme ternyata tidak kritis sama sekali; tidak lebih daripada skeptisisme yang berkedok ilmiah. Cara pikir ini menjadi penyumbang besar aneka gambaran yang menyimpang tentang Yesus dan Injil, seperti yang ramai dibicarakan dalam media massa akhir-akhir ini. Kritis berarti tidak gampang untuk menerima maupun menolak sesuatu yang ditawarkan. Sikap kritis menuntut seseorang untuk mengukur kebenaran sesuatu hal dengan mengembalikannya pada dasar pernilaian (kriteria).

Dokumen Palsu dan Legenda Dijadikan Fakta
Selain DVC dan LTJ, umat beriman modern juga digugah oleh The Jesus Papers karya Michael Baigent yang memaparkan teori tentang kematian palsu Yesus dan surat-surat Yesus yang ditujukan kepada Sanhedrin. Karya-karya semacam ini terus bermunculan akhir-akhir ini. Seorang pengamat berkata bahwa kesuksesan DVC lebih banyak berbicara tentang masyarakat modern yang mudah ditipu daripada tentang keterampilan seorang Dan Brown. Penulis-penulis modern ini menjadikan dokumen kuno seolah-olah bahan bersandi yang harus disingkap makna aslinya. Yang lain menjadikan legenda dan dokumen palsu sebagai fakta, dan dengan ceroboh menarik kesimpulan dari rumor yang belum terbukti kebenarannya. Penulis lain lagi, yang tidak ingin ketinggalan popularitas, memanfaatkan penemuan arkeologi dengan tebakan-tebakan yang spekulatif. Hal ini dapat menimbulkan kebingungan dalam jemaat beriman.

Bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-80 (16/4/07), Paus Benediktus XVI menerbitkan buku berjudul Yesus dari Nazareth. Buku ini berusaha mendamaikan figur Yesus-historis dengan figur Yesus-Injil sebagai jawaban terhadap DVC dan karya sejenisnya.

Lianto