Showing posts with label Apologetika. Show all posts
Showing posts with label Apologetika. Show all posts

Wednesday, July 23, 2008

Membedah "The Lost Tomb of Jesus" dengan Logika


Logika merupakan cabang filsafat yang mempelajari syarat-syarat penalaran yang sah. Dengan Logika, orang belajar mengenai aturan-aturan untuk mencapai penalaran yang tepat serta bentuk dan pola pikiran yang masuk akal dan sah. Logika juga dipandang sebagai studi dan penerapan aturan-aturan penarikan kesimpulan pada argumen atau sistem pemikiran. Perkembangan pesat sains dan teologi hingga saat ini dipercaya terjadi berkat pemanfaatan ilmu logika. Tulisan-tulisan Aristoteles tentang logika disebutnya sebagai Organon yang berarti instrumen ilmu.

Ketika kita berargumentasi dengan seseorang, tidak jarang kita merasakan adanya ketidakberesan dalam argumen atau cara penyimpulan yang dilakukan oleh lawan bicara. Hal serupa juga sering terjadi di saat membaca atau meneliti suatu teori atau wacana dalam media massa. Ada sesuatu yang tidak tepat dalam argumentasi, tetapi kita tak dapat dengan tepat menunjukkannya. Dalam keadaan ini, logika menjadi semacam mikroskop untuk menelisik apa yang tidak kasat pikir. Dengan logika, bisa dilihat The Lost Tomb of Jesus (LTJ) karya Jacobovici jatuh sekurang-kurangnya pada dua kesesatan penalaran. Kesesatan penalaran (fallacy) adalah kekeliruan pemikiran yang terjadi karena orang tidak mengikuti atau melanggar aturan penyimpulan. LTJ terjebak dalam kesesatan pikir argumentum ad verecundiam dan argumentum circulus viciosus.

Argumentum ad Verecundiam
Kekeliruan ini terjadi bila suatu kesimpulan dikemukakan bukan berdasarkan bukti, melainkan berdasarkan otoritas. Kekeliruan dilakukan dengan mengandalkan perasaan hormat orang banyak terhadap orang ternama (ahli) guna mendapatkan persetujuan atas suatu kesimpulan. Argumen ini sangat umum ditemukan dalam iklan-iklan produk masa kini dengan menampilkan kaum selebritis dalam promosi produk yang ditampilkan. Misalnya produk sabun tertentu menampilkan artis molek yang sedang bersabun-ria. Loncatan penyimpulan yang terjadi adalah: belum tentu benar artis tersebut mempergunakan produk yang ditampilkan. Lagipula belum tentu benar kemolekan tubuhnya adalah hasil/manfaat dari produk yang bersangkutan.

Dalam pembelaan LTJ, Jacobovici mengklaim bahwa karyanya didukung oleh pelbagai pakar, antara lain: pakar statistik, arkeolog, sejarah, pengujian DNA, kamera robot, forensik, dan pakar tulisan kuno. Benarkah demikian? Siapakah mereka? Lagipula kesimpulan besar yang ditarik semustinya didasarkan pada bukti yang jelas dan ilmiah, bukan dengan menumpang sederetan nama pakar untuk memancing keyakinan massa. Tidak sedikit pakar yang betul-betul kompeten di bidangnya bersuara menentang argumen LTJ dengan bukti dan penjelasan ilmiah. Jacobovici tidak mengindahkannya.

Argumentum Circulus Viciosus
Argumen ini lebih dikenal dengan “argumen lingkaran setan”. Kekeliruan argumen ini terjadi ketika seseorang mencoba membuktikan kesimpulan yang diambil dengan mengandaikan premis yang seharusnya dibuktikan. Argumen Jacobovici dalam LTJ mencoba membuktikan penemuan kuburan Talpiot sebagai milik Yesus sekeluarga. Dia mengandaikan Yoses dan Yakobus sebagai “benar” saudara Yesus. Premis yang masih harus dibuktikan kebenarannya ini dijadikan bukti untuk membuktikan kesimpulan kedua (kuburan Talpiot=kuburan keluarga Yesus), karena dalam kuburan itu tertemukan juga peti tulang dengan inskripsi nama Yoses. Gambaran sederhananya begini: Yoses adalah saudara Yesus. Berhubung nama Yoses juga tertera dalam kuburan Talpiot, maka kuburan Talpiot adalah kuburan keluarga Yesus. Mengapa demikian? Karena Yoses adalah saudara Yesus. Kesimpulan pertama yang belum terbukti dipakai untuk membuktikan kesimpulan kedua. Kesimpulan kedua selanjutnya dipakai lagi untuk membuktikan kesimpulan pertama. Inilah lingkaran setan yang melilit argumen Jacobovici. Contoh yang lebih sederhana berikut bisa membantu memperjelas kesesatan pikir ini. Tiga orang pencuri bertengkar mengenai pembagian tujuh berlian hasil curiannya. Salah seorang memberikan dua berlian kepada masing-masing temannya lalu berkata: “Saya dapat tiga”. Teman yang satu bertanya: “Kenapa Anda dapat tiga?” Jawabnya: “Karena saya pemimpin”. Teman yang lain bertanya: “Oh ya, bagaimana Anda menjadi pemimpin?” Jawabnya: “Karena saya punya tiga berlian”.

Argumen Jacobovici dalam LTJ dibantah oleh ahli arkeologi yang langsung terlibat dalam penggalian kubur Talpiot (lihat Membongkar The Lost Tomb of Jesus). Terjadi loncatan penyimpulan dalam teori Jacobovici. Di kalangan ilmuwan dan arkeolog yang tidak semua beragama Kristen, LTJ dibantah bukan terutama karena menggoyahkan keyakinan. Keduanya dibantah karena menentang logika dan kejujuran ilmiah.



Lianto (Publikasi: Majalah Duta Juni 2007)

Membongkar “The Lost Tomb of Jesus”


Menjelang perayaan kebangkitan Yesus tahun 2007, Gereja kembali diguncang oleh karya sekelompok orang yang mencoba membuyarkan iman akan kebangkitan. Karya yang santer diwacanakan itu adalah The Lost Tomb of Jesus (LTJ), yang pertama kali ditayangkan oleh Discovery Channel dan Vision TV di Canada pada tanggal 4 Maret 2007. Film dokumenter ini disutradarai oleh Simcha Jacobovici dengan James Cameron yang berperan sebagai produser eksekutif. Film ini dirilis bersama dengan buku dengan materi yang sama: The Jesus Family Tomb (JFT) yang dikarang oleh Jacobovici bersama Charles R. Pellegrino. Dua karya ini mendapat bantahan di mana-mana baik dari para arkeolog dan teolog maupun para pakar bahasa dan Kitab Suci.

Klaim Penemuan LTJ
Rumor LTJ berawal dari penemuan arkeologis atas kuburan kuno di Talpiot, Yerusalem pada tahun 1980. Dalam penggalian itu, ditemukan sepuluh peti tulang-belulang (osuari). Enam peti di antaranya terukir nama-nama yang diklaim Jacobovici dkk. sebagai nama-nama keluarga Yesus. Sedangkan empat peti yang lain tak bernama. Nama-nama yang terukir itu adalah Yeshua bar Yehosef (Yesus putra Yosef), Maria, Yose (Yosef atau Yoses yang dikaitkan pembuat film dengan saudara Yesus dalam Mark 6:3), Yehuda bar Yeshua (Yudah putra Yesus), Mariamene e Mara (yang diklaim sebagai Maria Magdalena), dan Matya (Matius yang dianggap sebagai suami seorang wanita dalam suatu peti yang tak berukir nama. Figur ini dikaitkan dengan seorang kerabat Maria, ibu Yesus).

LTJ lebih jauh mengklaim bahwa sejumlah peti yang lain telah hilang. Di antaranya adalah peti kuburan Yakobus yang disebut Perjanjian Baru sebagai “saudara Tuhan”. Dalam buku JFT, Jacobovici mengklaim bahwa peti Yakobus merupakan bagian dari kuburan keluarga di Talpiot ini yang terpisah karena ulah para penjual benda kuno. Jacobovici memperkuat argumennya dengan paparan aneka pakar yang dipergunakannya. Antara lain pakar statistik, arkeolog, sejarah, pengujian DNA, kamera robot, forensik, dan pakar tulisan kuno.

Kritik atas LTJ
“Yeshua” atau “Yesus”, Nama yang Umum
Sejumlah besar pakar arkeologi berpendapat bahwa argumen Jacobovici dalam LTJ merupakan kesimpulan yang terlalu dini dan tergesa-gesa. Amos Kloner, arkeolog yang terlibat langsung dalam penggalian kuburan Talpiot dan sejumlah arkeolog lain tidak pernah terbersit pikiran untuk mengidentikkan kuburan Talpiot sebagai kuburan keluarga besar Yesus. Nama-nama yang terukir di peti osuari merupakan nama-nama yang sangat umum dalam masyarakat Yahudi kala itu. Sama sekali tidak ada indikasi yang cukup untuk mengidentikkan kuburan tersebut sebagai kuburan Yesus.

Paul Maier, profesor Sejarah Kuno di Western Michigan University, mencatat bahwa sekurang-kurangnya ada 21 pribadi terkemuka yang bernama “Yeshua” atau “Yesus” yang tertemukan dalam karya Flavius Yosefus, sejarawan Yahudi abad pertama. Terlalu dini dan gampang bagi Jacobovici dkk. untuk melompat jauh menuju kesimpulan mereka. Dr. Richard Bauckham, professor University of St. Andrews, mengkatalog nama-nama osuari dari daerah itu sejak 1980. Dari catalog itu, ternyata nama “Yesus” menempati urutan ke-6 dari nama terpopuler yang dipakai oleh laki-laki Yahudi. Dan nama “Maria” atau “Mariamne” adalah nama terpopuler dari wanita Yahudi masa itu. Dalam koran Yedioth Ahronoth, Amos Kloner melaporkan bahwa nama “Yesus” tertemukan 71 kali dalam penggalian kuburan sejak 1980-an.

Klaim atas Peti Yakobus
Jacobovici dalam JFT mengklaim bahwa peti kuburan Yakobus tidak ditemukan di Talpiot karena telah dipindahkan. Pendapat ini mendapat bantahan. Ben Witherington III berpendapat bahwa berdasarkan data penjualan barang kuno, peti kubur Yakobus dipindahkan dari Silwan dan bukan dari Talpiot. Lebih jauh lagi, Eusebius melaporkan bahwa Yakobus dimakamkan tidak jauh dari tempat dia dibunuh sebagai martir. Tepatnya di lembah Kidron, dekat dengan kuburan yang dikenal sebagai kuburan Absalom. Di mana pun juga di Talpiot tidak ditemukan lokasi ini. Lagipula, ukuran peti Yakobus tidak sesuai dengan ukuran 10 peti yang ditemukan di Talpiot. Hal ini memperkuat argumen bahwa peti Yakobus tidak berasal dari kuburan Talpiot seperti yang diklaim Yacobovici.

Pengujian DNA
Pembuat film LTJ lagi-lagi membuat lompatan penyimpulan atas pengujian DNA. Mereka mengklaim bahwa pengujian DNA membuktikan antara “Yesus putra Yosef” dan “Mariamne” atau “Maria” tidak terdapat hubungan darah dari silsilah ibu. Dari sini ditarik kesimpulan bahwa mereka mungkin sepasang suami isteri karena dikuburkan dalam satu kuburan keluarga. Sebelum kesimpulan lain ditarik lebih jauh, pertama-tama semustinya dibuktikan terlebih dahulu apakah benar tulang-belulang dengan nama “Yesus putra Yosef” adalah milik Yesus Kristus. Lebih jauh, ketidakterkaitan hubungan darah antara dua tulang-belulang tersebut di atas, tidak bisa begitu saja menjadi alasan bahwa keduanya suami isteri. Bisa jadi “Mariamne” adalah isteri dari salah satu dari dua pria lain yang ditemukan dalam kuburan yang sama. Ternyata pengujian DNA yang dilakukan tidak ditujukan untuk identifikasi siapa pemilik belulang “Yesus putra Yosef”. Pengujian yang dilakukan hanya untuk membuktikan ketidakterkaitan antara sepasang belulang yang telah diyakini sebelumnya (apriori) sebagai sepasang suami isteri.

LTJ Tidak Sesuai dengan Tradisi Terpercaya
Identifikasi kuburan Talpiot sebagai kuburan Yesus dan keluarga didasarkan pada klaim yang tidak substansial. Klaim ini tidak sesuai dengan catatan Injil tentang kematian dan pemakaman Yesus. Argumen yang diusung LTJ bertentangan dengan tradisi Kristen awal tentang Yesus. Lebih jauh, LTJ juga tidak sejalan dengan data historis dan arkeologis tentang tata cara orang Yahudi zaman Yesus dalam penguburan orang mati.

Terlebih lagi, LTJ dengan peti mewah berornamen indah, tidak sesuai dengan kondisi keluarga miskin dan non-Yudea Yesus dari Nazareth. Klaim LTJ teramat sensasional dan tidak didukung oleh dasar yang ilmiah. Jodi Magness, seorang arkeolog di University of North Carolina, menegaskan bahwa di zaman Yesus, keluarga kaya memakamkan orang mati dalam kubur yang diukir tangan, meletakkan tulang belulang di lubang-lubang dinding, dan kemudian memasukkannya ke dalam peti osuari. Andai saja keluarga Yesus cukup kaya untuk memiliki kuburan dengan ukiran batu. Hal itu pun semustinya berada di Nazareth, bukan di Talpiot, Yerusalem. Nama-nama dalam kuburan Talpiot adalah milik suatu keluarga Yudea yang hidup sekitar Yerusalem. Hal itu terbukti dari susunan nama yang terdiri dari nama diri dan nama sang ayah (Yesus putra Yosef). Sebagai orang Galilea, susunan nama Yesus dan keluarga umumnya terdiri dari nama diri dan kampung asalnya (Yesus dari Nazareth).

Ornamen pada osuari temuan Talpiot (chevron dalam lingkaran) terukir dengan misterius dalam film LTJ. Mereka mungkin tidak tahu bahwa simbol itu sama sekali asing dari simbol-simbol Kristen awal. Simbol itu diambil dari ornamen Gerbang Nikanor di Bait Allah Yerusalem. Hal ini membawa kita kepada penafsiran bahwa belulang Talpiot lebih mungkin milik Yahudi fundamentalis.

Permasalahan Kompetensi
Joe Zias mantan kurator arkeologi Museum Rockerfeller, yang menerima dan membuat katalog temuan Talpiot, mengatakan: “….film yang dilebih-lebihkan ini tidak jujur secara intelektual dan ilmiah.” Lebih jauh ia menegaskan bahwa baik Jacobovici maupun Cameron sama sekali tidak kompeten dan kredibel. “Mereka tahu apa tentang arkeologi? Saya seorang arkeolog. Jikalau saya menulis buku tentang bedah otak, Anda pasti bertanya: ‘Siapakah orang ini?’….Proyek seperti ini merupakan penghinaan atas profesi arkeologis” Arkeolog lain bernama William Dever menegaskan bahwa argumen LTJ jauh sekali dari penafsiran rasional mana pun. Dalam film LTJ, pembuat film mengklaim bahwa laporan informasi ini belum pernah dipublikasikan. Hal ini dibantah oleh empunya penemuan, Amos Kloner. Menurut Kloner, seluruh detail sudah dipublikasikan di jurnal Antiqot pada tahun 1996. Dan dia tidak mengidentikkannya sebagai kuburan keluarga Yesus.

Dari latar belakang pribadi pembuat film ini, kiranya motivasi hanya soal meraup keuntungan materi. Mengikuti Dan Brown, barangkali mereka akan segera kaya raya. Tidak peduli mereka harus melukai hati jutaan orang tak berdosa yang tidak cukup jeli untuk membedakan fiksi dari fakta.

Lianto (Publikasi: Majalah Duta Juni 2007)
dari aneka sumber

Tuesday, July 22, 2008

Kutu Perusak [buku] Sejarah


Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk melukiskan seluk beluk kehidupan kutu-kutu yang biasanya menggerogoti buku-buku tua. Judul tulisan ini ditujukan untuk Dan Brown, pengarang novel The Da Vinci Code (DVC). Brown menciptakan sendiri misteri yang meliputi pelbagai karya seni maupun teks-teks kuno. Skenario disusun sedemikian rupa sehingga rahasia yang ada di balik teks kuno seolah hanya dapat diperoleh dengan pemecahan kode-kode yang sudah diandaikan. Seorang pengamat berkata bahwa kesuksesan DVC lebih banyak berbicara tentang masyarakat modern yang mudah ditipu daripada tentang keterampilan seorang Dan Brown. Bagi ahli sejarah dan Kitab Suci, DVC hanya mengundang tertawaan. Namun bagi awam, karya itu dapat sejenak menggugah iman. Sisi positif dari keberadaan DVC adalah menantang umat Kristen untuk lebih kritis dan mampu mempertanggungjawabkan serasional mungkin apa yang diyakini. Banyak tulisan telah diterbitkan untuk menampik data yang diklaim Brown sebagai fakta. Tulisan kecil ini mencoba menambahkan sisi-sisi kecil yang barangkali luput dari perhatian sambil membuat plesetan atas nama Dan Brown melalui metode pemecahan sandi.

Mitos dan Legenda Dijadikan Sejarah
Cerita Cawan Suci yang dipergunakan Yesus dalam perjamuan terakhir adalah mitos dan legenda. Dunia Anglo mengenal legenda ini dalam versi Raja Arthur dan Ksatria Meja Bundar. Bangsa Jerman dan Prancis pun memiliki versi cerita tersendiri. Namun daya khayal orang modern bisa menempatkan legenda dan mitos menjadi fakta sejarah. Inilah yang dilakukan Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln dalam buku The Blood and the Holy Grail yang terbit tahun 1982. Mereka mengklaim diri telah melakukan riset kritis yang menemukan fakta sejarah bahwa Yesus dan Maria saling mencintai dan memiliki sejumlah anak. Anak-anak mereka pindah ke Prancis dan menikah dengan keluarga bangsawan yang kemudian melahirkan wangsa Merovingian, dan seterusnya.

Manipulasi fakta ini dimulai pada 1956 dengan rumor tentang harta terpendam dan dokumen penting yang ditemukan di Rennes le Château. Pierre Plantard dkk. memanfaatkan rumor itu dan menciptakan kebohongan, lengkap dengan dokumen Prancis dan Latin tentang adanya Biarawan Sion yang bertugas melindungi keturunan Yesus. Ternyata terbukti bahwa semua itu merupakan kebohongan. Di bawah sumpah pengadilan hukum Prancis, para pembohong (termasuk Plantard) mengakui perbuatan mereka. Karena penipuan ini, Plantard dihukum penjara dan meninggal tahun 2000.

Baigent telah diingatkan tentang penipuan ini. Tapi ia tetap meneruskan langkahnya. Pada tahun 1991, bersama Richard Leigh, ia menerbitkan The Dead Sea Scroll Deception. Buku ini penuh rumor tak akurat dan sindiran menyesatkan. Penulis mau menonjolkan kontroversi sekitar penundaan penerbitan terakhir ribuan fragmen Gulungan Laut Mati. Menurut Baigent dan Leigh, gulungan yang tak diterbitkan mengandung fakta yang mendukung teori mereka tentang Yesus. Beberapa bulan setelah buku mereka terbit, foto-foto sisa gulungan itu diterbitkan. Tak lama kemudian, teks Gulungan Laut Mati seluruhnya (dalam bahasa Ibrani, Aram, dan Inggris) telah tersedia. Dan terbukti, tidak ada pernyataan kontroversial The Dead Sea Scrolls Deception yang benar.

Kedua rumor Baigent dan Leigh (Cawan Suci dan Gulungan Laut Mati) diterima mentah-mentah oleh Brown. Perhatikan tokoh instruktur dalam DVC yang membantu Prof. Robert Langdon dalam memaknai rahasia Cawan Suci: Sir Leigh Teabing! Nama tokoh ini dibentuk oleh pecahan dan gabungan kedua penulis yang dikutip Brown: Leigh dan Baigent (diacak menjadi teaBing)! Melalui pemecahan sandi ala Brown, pembaca bisa melihat diri Leigh dan Baigent dalam tokoh Leigh Teabing. Tapi hal ini tidak memuaskan pemilik cerita. Baigent dan Leigh menggugat Brown dan penerbitnya dengan delik pencurian kekayaan intelektual.

Anekdot Brown atas “Perjamuan Terakhir”
Brown berpendapat bahwa dalam lukisan “Perjamuan Terakhir” karya Da Vinci, orang yang duduk samping kanan Yesus, tanpa janggut dengan rambut terurai adalah Maria Magdalena. Hal ini membuat ahli sejarah seni tertawa. Jeannine O’Grody, kurator Seni Eropa di Museum Seni Birmingham, memberi kuliah tentang “The Da Vinci Code and Renaissance Art”, di Galeri Seni Nova Scotia, Halifax, 2 Juni 2006. Komentarnya: “Rambut panjang dan tidak adanya janggut merupakan cara seniman Renaissance menggambarkan orang [lelaki] muda.” Tokoh di sebelah kanan Yesus dalam lukisan itu bukan Maria Magdalena, melainkan Murid terkasih, seorang laki-laki muda. Hal serupa kita temui juga antara lain dalam lukisan Da Vinci “Yohanes Pembaptis” muda (1513-1516), “St. Sebastian” (1502-1503) karya Raphael, “St. Julian” (1455-1460) karya Piero della Francesca, dan “Tobias dan Malaikat” (1470-1480) karya del Verrocchio. Karena Brown melakukan banyak kesalahan dalam hal seni, O’Grody meragukan keakuratan sebagian besar sejarah gerejanya.

Injil Filipus dan Injil Maria tidak Membuktikan Apa-apa
Ketika skenario Brown tiba pada masalah Injil Filipus dan Injil Maria, lagi-lagi ia membuat kesalahan besar. Sangat tidak benar bahwa Injil Filipus adalah catatan paling awal. Injil ini disusun pertama kali dalam bahasa Yunani atau Syria (bukan Aram seperti catatan Brown) sekitar tahun 150 M. Sementara Injil Markus (kanonik) disusun sekitar tahun 65 M. Penulis Injil Filipus tidak menyiratkan adanya romantika antara Yesus dan Maria Magdalena. Ia hanya ingin meninggikan Maria agar memiliki kedudukan yang sama dengan murid-murid lain. Hal yang sama juga ditekankan dalam Injil Maria. Isi kedua Injil tersebut amat dekat dengan tulisan-tulisan Gnostik. Besar kemungkinan ada kaitan dengan wacana persamaan gender yang memang sudah muncul di abad-abad awal. Yang diperjuangkan adalah hak Maria untuk ikut memberikan pengajaran kepada komunitas awal. Inilah persoalan utama Injil Maria.

Wacana itu diangkat dengan menciptakan dialog tentang Petrus yang keberatan karena merasa Yesus lebih mengasihi Maria daripada dirinya. Petrus meminta Maria Magdalena untuk membagikan kepada murid yang lain ajaran-ajaran yang disampaikan Yesus kepadanya yang tidak disampaikan kepada murid-murid lain. Bagi Brown, adanya pengetahuan khusus yang diberikan Yesus kepada Maria menyiratkan adanya hubungan khusus yang diarahkan pada gagasan pasangan hidup. Logika Brown ini adalah penalaran yang sesat. Seandainya benar bahwa Yesus menikahi Maria, mengapa Petrus harus dongkol karena diperlakukan berbeda? Bila mereka suami-isteri, bukankah wajar bila Yesus lebih mengasihi Maria? Kedongkolan Petrus justru menunjukkan bahwa tidak ada hubungan khusus antara Yesus dan Maria. Dengan fragmen Injil Maria, Brown mau membuktikan adanya pernikahan antara Yesus dan Maria. Di samping otentisitas Injil Maria diragukan, kutipannya pun tidak membuktikan apa-apa.

Rahasia di Balik Nama “Dan Brown”
Pemecahan kode (sandi) pada naskah-naskah kuno hanyalah metode bohong-bohongan Brown. Sebagai trik untuk menciptakan suspense pada karya thriller tentu sah-sah saja. Namun tidak benar bahwa naskah-naskah kuno mengandung kode yang harus dipecahkan. Mengikuti metode akal-akalan ini, nama Brown sendiri pun mengandung rahasia yang bisa dipecahkan. Jika diperhatikan dengan teliti dan diacak sedemikian rupa (seperti yang sering ditekankan Brown), nama “D-a-n-B-r-o-w-n” bisa menjadi “B-a-D-w-o-r-m” (m=n+n). Apa yang dilakukan Brown dengan karya-karyanya sangat cocok dengan kode rahasia dalam namanya: “ulat (kutu) jahat” perusak buku-buku (naskah/dokumen) tua.


Lianto
Sumber utama: Craig A. Evans, Merekayasa Yesus