Showing posts with label Orthodoxy. Show all posts
Showing posts with label Orthodoxy. Show all posts

Saturday, July 26, 2008

Roti dan Anggur: Hanya Lambang?



Setiap minggu bahkan setiap hari, umat beriman dapat mengambil bagian dalam perjamuan Ekaristi. Bukan tidak mungkin aktivitas ini bakal jatuh ke dalam rutinitas yang kurang bermakna. Oleh sebab itu, pada Minggu kedua setelah Pentekosta, Gereja merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Barangkali ini semacam penegasan dan “peringatan-ulang” tahunan akan apa yang sesungguhnya ada dalam dan terjadi pada “roti” dan “anggur” Ekaristi.

Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi
Melalui Konsili Trente, Gereja mengajarkan bahwa dalam Ekaristi yang mahakudus, secara sungguh, real, dan substansial ada tubuh dan darah Tuhan Yesus Kristus, bersama dengan jiwa dan keallahan-Nya. Kehadiran Kristus dalam Ekaristi disebabkan oleh perubahan seluruh substansi roti dan anggur menjadi substansi tubuh dan darah. Yang tinggal kasat mata hanya rupa roti dan anggur saja. Gereja menyebut perubahan ini dengan istilah “transubstansiasi” (DS* 1651, 1652). Peristiwa ini terjadi waktu konsekrasi dalam perayaan Ekaristi. Bagaimana kehadiran itu terjadi tidak dijelaskan. Keterbatasan bahasa manusia tidak memungkinkan pengungkapan misteri iman ini. Istilah “transubstansiasi” hanya menerangkan bagaimana kehadiran Kristus dapat dipikirkan ketika roti dan anggur dikonsekrasi, bukan bagaimana cara terjadinya.

Filsafat Aristoteles: Substansi dan Aksidens
Untuk mengerti “transubstansiasi”, filsafat Aristoteles kiranya dapat membantu. Menurut Aristoteles, segala sesuatu di dunia ini mempunyai hakikat (substansi) yang tak kelihatan. Substansi inilah yang membuat sesuatu menjadi sesuatu itu, dan bukan menjadi yang lain. Misalnya hakikat kucing adalah apa yang membuat kucing itu kucing, tak peduli apakah kucing itu besar, kurus, kurapan, berbulu hitam atau putih. Hakikat meja adalah apa yang membuat berbagai meja dengan bentuk apa pun (bulat, lonjong, segiempat) menjadi meja. Sedangkan aksidens adalah bentuk lahiriah (gemuk, kurus, hitam, putih, bulat, lonjong, dsb.) yang ditambahkan pada substansi. Substansi dan aksidens membentuk segala makhluk/benda konkret.

Dengan demikian pengenalan manusia mencakup dua aspek: pengenalan akan substansi yang ditangkap oleh rasio, dan pengenalan akan aksidens yang ditangkap indera. Dari sini, St. Thomas Aquinas mengajarkan bahwa dalam konsekrasi, seluruh substansi roti dan anggur (yakni apa yang membuat roti dan anggur menjadi roti dan anggur) diubah menjadi substansi tubuh dan darah Kristus, meskipun sifat dan rupa (aksidens) roti dan anggur tetap sama.

Dari Beda Pendapat Menuju Dialog
Soal kehadiran nyata Kristus rupanya menimbulkan perselisihan pendapat dalam sejarah. Tokoh protestan Ulrich Zwingli menegaskan bahwa ekaristi melulu simbolis saja dan menolak terjadinya perubahan apa pun. Martin Luther menerima kehadiran nyata tapi menolak perubahan substansi. Ia menawarkan istilah “konsubstansiasi”: substansi roti dan anggur tetap ada bersamaan dengan substansi tubuh dan darah Kristus. Dan kehadiran Kristus terjadi bukan pada waktu konsekrasi, melainkan ketika Ekaristi kudus diterimakan kepada umat beriman. Konsili Trente menegaskan keyakinan teguh tentang konsekrasi, kehadiran nyata, dan perubahan substansi sembari menekankan perlunya penyembahan tubuh dan darah Kristus dalam rupa roti dan anggur (DS 1651-1654; 1356). Yang harus dipegang teguh adalah bahwa dalam Ekaristi, Kristus benar-benar hadir dalam rupa roti dan anggur, dan bukan sekedar lambang atau tanda saja.

Di era baru sekarang, Gereja pasca Konsili Vatikan II mendekati misteri Ekaristi tidak melulu dengan filsafat Aristoteles. Tanpa meninggalkan kekayaan teologi Konsili Trente, Gereja era baru melirik sudut pandang hubungan personal antara Kristus dan Tubuh Mistik-Nya: Gereja. Kristus hadir sebagai pribadi yang tidak terikat pada dimensi ruang dan mengadakan hubungan secara personal-real dengan orang beriman. Hal ini sejalan dengan pandangan tradisional St. Thomas Aquinas: Kristus bukan di tempat tertentu, melainkan menganugerahkan Diri-Nya kepada orang beriman yang menerima-Nya. Pendekatan ini bisa membuka jalan bagi dialog dengan Gereja-gereja tetangga. (bdk. Pernyataan Lima, Peru, 1982).

Masalah Praktis: Komuni Dua Rupa
Sejumlah tokoh protestan berpendapat bahwa menyambut komuni satu rupa (roti saja) kurang daripada dua rupa (roti dan anggur). Masalah praktis ini rupanya sangat ditekankan Luther yang menginginkan semua umat beriman menyambut komuni dua rupa. Untuk hal ini, Konsili Trente memutuskan bahwa “dalam sakramen Ekaristi yang terhormat di bawah masing-masing rupa dan di bawah setiap bagian dari kedua rupa tersendiri ada seluruh Kristus” (DS 1653). Dengan ini ditegaskan bahwa dengan menyantap satu rupa orang tidak mendapat kurang daripada menyantap dua rupa. Baik dalam roti maupun anggur tersendiri, Kristus hadir dalam arti sepenuhnya.

Berkaitan dengan tubuh dan darah Kristus dalam Ekaristi, seorang sahabat berumur 40-an membagikan kegembiraan dan kesedihannya. Dia gembira, karena diperkenankan menerima Kristus dalam komuni. Dia sedih, karena setelah puluhan tahun menjadi Katolik, sekarang baru tahu bahwa apa yang diterima selama ini dalam komuni adalah sungguh-sungguh tubuh dan darah Kristus. Tak diragukan lagi, sungguh-sungguh!: dalam Ekaristi, Kristus hadir secara istimewa melebihi kehadiran-Nya dalam sakramen-sakramen yang lain! Ketika Tubuh dan Darah-Nya diangkat waktu konsekrasi, sembahlah Dia! Kecap kenikmatan rohani yang luar biasa ini!


*DS (singkatan dari Denzinger-Schonmetzer) adalah kumpulan dokumen Gereja yang untuk pertama kalinya diterbitkan oleh Heinrich Joseph Denzinger (=D) pada tahun 1854. Pada tahun 1973, Adolf Schonmetzer (=S) menerbitkan cetakan yang ke-35 dengan aneka revisi.

Lianto (Publikasi: Majalah Didache Juni 2007)

Allah Tritunggal Mahakudus



Pada hari Minggu pertama sesudah perayaan Pentekosta, kita merayakan pokok iman Kristiani yang utama, yakni iman akan Allah Tritunggal. Barangkali inilah ajaran tersulit dalam rumusan teologi Kristen sepanjang sejarah. Kita menyapa Allah sebagai Allah-Bapa, Allah-Putera, dan Allah-Roh Kudus. Ini tidak berarti bahwa kekristenan percaya akan tiga (jumlah) Allah. Sama seperti agama monoteis lainnya, kita juga mengimani bahwa Allah itu esa. Bagaimana keesaan dan ketigaan dijelaskan? Tulisan kecil ini mencoba menjadi sebatang korek api yang bernyala tidak lama. Kiranya cukup lama untuk memberi terang untuk menemukan lilin, lentera, lampu emergency, atau sumber cahaya lainnya. Cahaya misteri Allah Tritunggal sedemikian terang sehingga “membutakan” mata budi yang memandang-Nya.

Keterbatasan Budi
Pertama-tama harus disadari bahwa budi manusia mana pun tak mampu memahami misteri Allah Tritunggal sepenuhnya. Allah yang dapat dimengerti, bukan lagi Allah yang Mahatinggi. Hakikat dan keagungan Allah tidak sebanding dengan daya tangkap budi kita. Karena keterbatasan budi, kita hanya mampu mendekati misteri ini dengan bekal cercah-cercah cahaya.

Allah Tritunggal dalam Kitab Suci
Istilah “Tritunggal” atau “Trinitas” memang tidak ditemukan dalam Kitab Suci. Namun makna yang dimaksudkan dalam istilah teologis ini terkandung jelas dalam Kitab Suci. Misteri Tritunggal tersirat dalam bab pertama Injil Markus tentang pembaptisan Yesus (Mark 1:9-11). Bagian ini merupakan intisari wahyu Allah Tritunggal: Allah-Bapa mewahyukan Yesus sebagai Putera-Nya yang terkasih, sementara Roh Kudus memperlihatkan Diri dalam rupa merpati.

Injil Matius melangkah lebih jauh. Dalam Matius, Yesus yang bangkit mengutus para murid untuk mengajar segala bangsa dan membaptis mereka atas nama (bentuk singular) Bapa dan Putera dan Roh Kudus (Mat 28:19). Ayat ini mengembangkan konsep dasar ajaran Tritunggal dalam Perjanjian Baru bukan melulu sebagai uraian teoritis, melainkan sebagai rumusan praktis untuk membaptis umat beriman.

Dalam Yohanes, konsep Tritunggal tersirat dalam hubungan kekal antara Bapa dan Sabda (Yoh 1:1-18). Roh Kudus dilukiskan sebagai yang berasal dari Bapa (Yoh 15:26) dan diutus oleh Putera (Yoh 16:7) untuk melanjutkan apa yang telah dimulai Putera (Yoh 16:13). Pengalaman Stefanus dalam Kis 7:55 juga turut memperkaya makna triniter dalam KS. Tidak ketinggalan Paulus, yang dalam surat-suratnya memberikan salam: “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus dan kasih Allah serta persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2Kor 13:13 dan ayat-ayat paralel lainnya).

Allah Tritunggal dalam Teologi
Pengalaman iman akan Allah Bapa-Putera-Roh Kudus sebagaimana tersirat dalam Kitab Suci itu kemudian diwartakan. Atas dasar Alkitab, Gereja merefleksikan kebenaran ini dan merumuskannya dalam teologi. Dalam sejarah, muncul aneka pandangan sesat tentang Allah Tritunggal terutama pada abad ke-3 dan ke-4. Teologi Gereja berfungsi menampik pandangan sesat yang muncul dan sedapat mungkin mengembalikan makna iman sesuai wahyu dalam Injil.

Tentu saja rumusan teologi pun belum sepenuhnya memadai jika dibandingkan dengan pengalaman rohani yang hidup dan keADAan Allah Tritunggal yang sebenarnya. Gereja telah menempuh perjalanan panjang dalam usaha merumuskan dan mempertahankan ajaran iman Allah Tritunggal. Dua konsili ekumenis yang pantas disebut adalah Konsili Nikea (325) dan Konsili Konstantinopel I (381). Secara ringkas, ajaran konsili dapat dirumuskan berikut ini. Allah-Bapa (Sumber-tak-bersumber) sejak kekal (awal-tanpa-permulaan) menerimakan seluruh Diri-Nya kepada Allah-Putera. Maka Bapa dan Putera sama dalam segala hal, kecuali dalam cara “memiliki” ke-Allahan (menerima dan menerimakan). Penerimaan seluruh ke-Allahan dari Bapa dan dari Putera ialah Roh Kudus. Allah memberi Diri seluruhnya secara tak terbagi. Kemahaesaan adalah hakikat-Nya sehingga mustahil terbagi-bagi dalam unsur-unsur yang bisa dijumlahkan. Angka “satu” dan “tiga” harus dimengerti secara analogis. Allah itu Mahaesa; satu dalam Kodrat-Nya, dan ber-Pribadi tiga.

Harus ditegaskan di sini bahwa keberADAan Allah tidak sama dengan keberadaan ciptaan mana pun di dunia. Maka hal itu tak akan terungkapkan secara memuaskan dalam kata dan bahasa mana pun di dunia. Sifat analogis dalam pemakaian kata “satu” dan “tiga” mengharuskan kita untuk mengartikannya secara berbeda dari pengertian sehari-hari tentang angka. Tiga pribadi bukan bilangan (angka) yang bisa dijumlahkan. Ke-tiga-an menghindarkan orang untuk mengerti Ke-satu-an Ilahi secara terlalu manusiawi. Kesatuan Ilahi pun tidak sama dengan kesatuan ciptaan mana pun di dunia. Keesaan dan ketigaan ini jauh dari segala pengertian kuantitatif manusia. Kesatuan Allah menjadi jelas bagi kita justru dalam Ketigaan-Nya. Konsep Tritunggal bukan hanya tidak mengurangi keesaan Allah, melainkan malah memperdalam, mempribadikan, dan mengrohanikannya jauh di atas kesatuan duniawi apa pun yang dapat dipikirkan.

Allah Tritunggal dalam Gambaran Sederhana
Dalam sejarah, kita mengenal aneka gambaran untuk memudahkan pengertian tentang misteri Allah Tritunggal. Dalam bahasa sederhana, “ketigaan” dikemukakan dalam “kesatuan-tak-terpisahkan” misalnya dengan gambaran: “matahari-cahaya-kehangatannya” (St. Tertulianus). St. Agustinus mengajukan model psikologis “berada-mengenal-mencinta”. Richard dari St. Victor memakai model cinta kasih: Yang-mencinta (Bapa), Yang-dicinta (Putera), dan Cinta itu sendiri (Roh Kudus). “Tentang Allah Tritunggal hanya dapat dikatakan bahwa Dialah Cintakasih; sebab cintakasih mustahil sendirian.” (Jürgen Moltman). Ada pula yang melihat bahwa dari sudut pandang manusia, Bapa adalah Allah di atas kita, Putera adalah Allah bersama kita, dan Roh Kudus adalah Allah di dalam kita. Filsafat personalis “Aku-Engkau-Kita” yang dikembangkan Martin Buber turut memperkaya gambaran kita.

Allah Tritunggal dalam Silang Pendapat
Tatkala penjelasan positif (Tritunggal adalah ini atau itu) dirasa tidak memadai, kajian tentang aneka perselisihan berkaitan dengan ajaran Tritunggal kiranya dapat membantu. Dengan menyimak ajaran yang ditolak Gereja, kita mendapat masukan tentang kesalahan pengertian orang tentang ajaran yang bersangkutan.

Dalam sejarah, salah paham terbesar adalah paham monarkianisme. Paham ini terlalu menekankan kesatuan (bilangan/angka) Allah sehingga menolak Putera ilahi sebagai yang berpribadi sendiri. Aliran ini terwujud dalam dua pandangan, yakni modalisme dan subordinasionisme. Modalisme memandang Bapa, Putera, dan Roh Kudus hanya sebagai tiga cara penampakan Diri Allah. Mereka menolak bahwa ketiganya merupakan pribadi yang berbeda-beda. Sedangkan subordinasionisme atau arianisme menempatkan Putera dan Roh Kudus sebagai Allah yang lebih rendah dari Allah-Bapa. Paham-paham ini ditolak dan dianggap bidah oleh Gereja. Gereja menegaskan bahwa Allah-Putera sehakikat dengan Allah-Bapa. Maka Putera bukanlah makhluk di antara Allah dan ciptaan. Gereja juga mengajarkan bahwa Allah-Roh Kudus sama dalam keagungan (dan pantas dihormati dengan penghormatan yang sama) dengan Bapa dan Putera. Dalam menyebut misteri realitas Allah ini: ketigaan dan kesatuan, Gereja memakai istilah manusia yang amat terbatas: Tritunggal! Apa mau dikata, itulah perbendaharaan kata yang tersedia.

Bagaimana dengan bantahan sebagian saudara muslim yang merujuk nas Al-Quran yang menyebut bahwa Allah itu satu, tidak beranak dan atau diperanakkan, dan bahwa tiada tuhan selain Allah? Di zaman hidup nabi Muhammad, ada pandangan dari kaum Jahiliah yang menganut kepercayaan bahwa Allah mempunyai tiga anak yang bernama al-Lat, al-Uzza, dan al-Manat. Pandangan Al-Quran di atas muncul sebagai perlawanan atas keyakinan adanya tiga anak Allah dan bukan ditujukan untuk pandangan Tritunggal agama Kristen. Adalah salah alamat bila nas Al-Quran dipakai untuk membantah pandangan Tritunggal Mahakudus.

Lianto (Publikasi: Majalah Didache Juni 2007)

Thursday, July 24, 2008

Paus Tak Dapat Salah?


Pada momentum perayaan ulang tahun ke-80 (16/4/07), Paus Benediktus XVI menerbitkan buku setebal 400 halaman, berjudul Jesus of Nazareth. Buku ini berusaha mendamaikan figur Yesus-historis dengan figur Yesus-Injil sebagai jawaban terhadap pelbagai rumor simpang siur tentang Yesus akhir-akhir ini. Sejumlah kalangan menyayangkan adanya kesalahan kecil dalam buku itu. Mereka menghubungkannya dengan ajaran Gereja Katolik tentang “kebal-salah” (tak-dapat-salah) yang dikenakan pada jabatan Paus. Ajaran ini dikenal dengan istilah infalibilitas. Dalam konteks manakah infalibilitas diterapkan?

Orang yang pertama kali menunjukkan kesalahan kecil dalam buku Jesus of Nazareth karya Paus Benediktus XVI adalah teolog Robert Imbelli dari Universitas Boston. Dalam bagian buku yang menyinggung penerbitan buku-buku tentang Yesus, Paus Benediktus menyebut John Meier, seorang profesor di Universitas Notre Dame sebagai anggota imam Yesuit (SJ). Ternyata Meier bukan seorang Yesuit, melainkan seorang imam praja Keuskupan New York. Sejumlah teolog lain mengaitkan kesalahan ini dengan ajaran Gereja tentang infalibilitas paus. Ini jelas tidak tepat dan salah alamat.

Infalibilitas dimengerti sebagai bebas dari kemungkinan sesat/salah dalam hal-hal yang berkaitan dengan iman dan moral yang diwahyukan. Ini dianugerahkan oleh Kristus kepada seluruh Gereja dengan perantaraan Roh Kudus (Yoh 16:12-15; Lumen Gentium 12), khususnya kepada seluruh dewan uskup dalam kesatuan dengan paus, pengganti Petrus (lih. Kis 15:1:29; 1Kor 15:3-11; LG 25). Konsili Vatikan I mengajarkan bahwa paus tidak dapat sesat/salah, dalam jabatan sebagai gembala seluruh orang beriman dan pengganti Petrus, untuk mengajarkan kebenaran tentang iman dan moral ex cathedra (DS 3065-3075). Ex cathedra menunjuk pada sifat resmi suatu pernyataan kepausan. Ketetapan ex cathedra yang dikeluarkan seorang paus sebagai gembala dan guru semua orang Kristen dan sebagai kepala dewan uskup didasarkan pada kewibawaan apostolik tertinggi yang diserahkan kepadanya untuk menjaga kemurnian ajaran iman dan moral kristiani. Buku Jesus of Nazareth adalah refleksi Paus Benediktus selaku pribadi. Paus sendiri membuka kesempatan bagi khalayak ramai untuk mengkritisi karyanya. Gambaran Yesus dalam buku itu adalah refleksi dan sudut pandang pribadinya, bukan ajaran resmi Gereja Katolik Roma. Dalam konteks ini, kesalahan kecil dalam karya tersebut tidak dapat menjadi alasan untuk menafikan atau mempertanyakan ajaran tentang infalibilitas.

Paus juga manusia. Selaku pribadi, seorang paus tentu dapat salah, baik dalam perkataan maupun tindakan. Namun segala perkataan dan tindakan seorang paus sebagai pribadi tidak bisa dikaitkan dengan infalibilitas. Dengan kata lain, infalibilitas dikenakan pada jabatan paus, bukan pada pribadinya (bdk. KHK 749 § 3). Dalam kenyataannya, ajaran-ajaran yang kebal salah (yang disampaikan ex cathedra) biasanya dihasilkan oleh konsili-konsili ekumenis. Amat jarang dari seorang paus. Seorang paus wajib menyelidiki iman seluruh umat beriman sebelum memberikan suatu ajaran resmi.

Dalam usaha menafsirkan ajaran-ajaran yang kebal salah, orang harus membedakan antara inti ajaran dan rumusannya. Yang kebal salah adalah inti ajaran yang mau disampaikan. Rumusan tentu dapat ditinjau ulang mengingat keterbatasan bahasa dan latar belakang zaman ketika rumusan itu dibuat. Kebenaran kristiani terlampau luas maknanya untuk dirumuskan secara memadai dalam kata-kata. Oleh karena itu umat beriman harus menyatakan Kebenaran itu dalam karya cinta kasih yang nyata yang melampaui rumusan kata-kata.

Lianto

Alkitab Tak Dapat Salah?


Ketika membaca Da Vinci Code karya Dan Brown, seorang pembaca kritis bisa tersenyum simpul karena manangkap basah Brown, yang secara ceroboh mengaitkan fiksi dengan fakta; mitos dan legenda dengan sejarah. Lain halnya bila orang membaca Misquoting Jesus: The Story Behind Who Changed the Bible and Why, karya Bart D. Ehrman. Buku ini dapat membuat hati tertegun sejenak, prihatin, dan aneka perasaan tak menentu. Mengapa? Karena Ehrman memaparkan sejumlah kesalahan dalam penulisan Alkitab dan dengan itu menggiring pembaca kepada kesimpulan bahwa Alkitab bukan Sabda Tuhan. Berbeda dari Brown, Ehrman adalah pakar di bidang Perjanjian Baru; orang yang sebetulnya berkompeten berbicara tentang masalah Alkitab.

Latar Pendidikan Bart D. Ehrman
Bart Ehrman tumbuh dalam lingkungan kristen konservatif (fundamentalis). Hal ini perlu ditegaskan untuk memahami revolusi pikirannya. Ia mengenyam ilmu di Moody Bible College Institute, Chicago. Moody terkenal sarat akan spirit fundamentalisme. Di sini hanya ada satu sudut pandang yang dianut, diajarkan, dan harus diakui (secara resmi melalui penandatanganan) baik oleh dosen maupun mahasiswa, yakni bahwa Alkitab adalah Firman yang tidak bisa salah dari Allah, seutuhnya terilhami kata demi kata. Dari sana ia melanjutkan ke Wheaton College Graduate School, di mana ia mendapatkan gelar dalam studi Perjanjian Baru. Bertolak belakang dengan Moody, Wheaton penuh dengan warna liberal. Di sini orang berbicara soal sastra, sejarah, filsafat, dan tidak segan untuk mempertanyakan apa yang tertulis dalam Alkitab maupun apa yang diimani. Kemudian ia menyelesaikan gelar Ph.D di Princeton Theological Seminary. Seorang Ehrman hidup dalam dua ekstrem yang bertentangan.

Misquoting Jesus
Dalam buku ini, Ehrman menggali Alkitab dengan perbandingan varian tekstual dan menemukan pelbagai kesalahan dalam penulisan Alkitab. Kesalahan dalam Alkitab, menurut Ehrman, membawa akibat Alkitab tidak bisa dipercaya dan dipandang sebagai firman Allah. Ia sendiri kehilangan keyakinan terhadap Alkitab. Akibatnya, Ehrman kehilangan imannya dan memandang dirinya sebagai seorang agnostik. Agnostisisme merupakan skeptisisme religius yang menaruh keyakinan pada ketidakmampuan untuk memahami hal-ikhwal Allah.

Ehrman mengisi karyanya dengan pelbagai perikop atau bagian perikop (ayat-ayat) yang dianggapnya sebagai komentar ahli kitab di kemudian hari. Bagi Ehrman, hal ini membuat bagian tertentu dari Alkitab tidak lagi otentik. Ehrman juga mempermasalahkan ketidaksesuaian yang mencolok antara Injil-injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas) dengan Injil Yohanes tentang kapan Yesus mati. Dan kesalahan yang paling fatal bagi Ehrman sendiri adalah komentar Yesus dalam Markus 2:25-26: “...bagaimana ia [Daud] masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar...” Di sini Yesus menyinggung kisah di mana Daud menerima roti sajian dari Imam Ahimelekh (1 Samuel 21:1-10). Karena yang tertulis dalam 1Sam adalah Ahimelekh (bukan anaknya: Abyatar), maka terdapat kesalahan secara teknis, entah dibuat oleh Markus, atau seseorang yang meneruskan kisah itu, atau oleh Yesus sendiri.

Titik Tolak yang Salah
Fundamentalisme apa pun, hanya tampak kokoh di luar, namun amat rapuh di dalam. Prinsip seorang fundamentalis adalah: “Tunjukkan kepada saya satu kesalahan dalam Alkitab maka saya akan membuangnya.” Ehrman hidup, tumbuh, dan bertolak dari cara pikir fundamentalistis ini. Setelah ditemukan kesalahan dalam Alkitab, Ehrman melihatnya sebagai kitab manusia, bukan firman Allah. Didikan Moody Bible College mengindoktrinasi Ehrman untuk memandang Alkitab sepenuhnya tidak bisa salah (ineran) dalam setiap kata-katanya. Gagasan-gagasan yang kaku tentang inspirasi verbal dan ineransi Alkitab mendasari problem yang dihadapi Ehrman.

Titik Tolak yang Benar
Untuk melihat titik tolak yang benar, kita harus menyimak apa yang menjadi dasar terbentuknya gerakan baru abad pertama yang disebut kekristenan. Dasar itu tidak lain, tidak bukan adalah peristiwa kebangkitan Yesus. Seluruh isi Perjanjian Baru mengarah kepada satu thema sentral, yakni bahwa Allah telah membangkitkan Yesus. Para pengikut-Nya yang percaya (Petrus dkk.), sanak saudara Yesus yang awalnya menentang-Nya (mungkin Yakobus atau Yudas), dan musuh-Nya (Paulus) menjadi saksi untuk peristiwa ini. Mereka rela dan berani mengorbankan nyawa untuk membenarkan peristiwa kebangkitan Yesus. Sangat mustahil akan ada orang-orang yang mau mengorbankan nyawa untuk hal yang mereka tahu sendiri sebagai kebohongan. Realitas kebangkitan dan dampaknya pada orang-orang yang mendengar serta tanggapan iman terhadap hal itulah yang mendorong timbulnya kekristenan, bukan Alkitab yang entah itu terilhami kata per kata atau yang bebas dari kesalahan. Ehrman menutup mata terhadap “isi” dan repot mempermasalahkan “kulit”.

Tidak ada maksud di sini untuk mengecilkan peran Alkitab. Penegasan tentang dasar munculnya kekristenan mau mengatakan bahwa nilai data-data dan bukti-bukti yang dikemukakan dalam Alkitab tidak melebihi pesan yang mau disampaikan, yakni kejadian kebangkitan. Penting juga digarisbawahi bahwa dalam jangka waktu sepuluh hingga limabelas tahun keberadaan Gereja Perdana, belum ada satu pun buku Perjanjian Baru. Kendati demikian, Gereja berkembang dengan cepat dan luas. Pergumulan iman Ehrman timbul dari harapan yang keliru tentang sifat dan fungsi Alkitab.

Tradisi dan Inspirasi
Akar masalah Ehrman adalah keyakinan bahwa Alkitab diinspirasikan Allah secara verbal kata demi kata. Dan oleh sebab itu, Alkitab tak mungkin terdapat kesalahan. Setelah generasi pertama berlalu, tradisi lisan yang hidup dan berkembang dalam Gereja Perdana dirasa perlu untuk diteruskan kepada generasi berikutnya. Dengan dorongan dan bimbingan Roh Kudus (inspirasi) muncullah penulisan kitab-kitab suci sehingga tulisan-tulisan itu disebut sabda Allah. Yang ingin disabdakan Allah terdapat dalam tulisan-tulisan yang terinspirasi (Dei Verbum 11; DS* 3006; 3629). Ketika ilham itu diungkapkan dalam bahasa manusia, unsur sosial-budaya melekat tak terelakkan. Oleh karena itu, untuk menilai kebenaran yang terkandung dalam kitab-kitab suci, orang perlu menyimak maksud, pengandaian, konteks, bentuk sastra yang dipakai dalam pengungkapan, dan tradisi-tradisi yang menjiwainya (Dei Verbum 12).


*Denzinger-Schonmetzer (biasa disingkat DS) adalah kumpulan dokumen Gereja yang untuk pertama kalinya diterbitkan oleh Heinrich Joseph Denzinger(D) pada tahun 1854. Pada tahun 1973, Adolf Schonmetzer (S) menerbitkan cetakan yang ke-35 dengan aneka revisi.

Lianto (Publikasi: Majalah Didache Januari 2008)