Thursday, February 9, 2012

Isi Buku: Where is God When I Need Him?




"Aku tak dapat berdoa lagi". Ini sering diungkapkan orang-orang yang mulai mengalami kesulitan dalam berdoa. Relasi dengan Allah dalam doa biasanya diawali dengan pengalaman-pengalaman yang menyenangkan akan kehadiran Allah. Allah dialami sebagai Allah yang hidup, dekat, penuh cinta, senantiasa menghibur dan menguatkan. Hiburan-hiburan dan kegembiraan rohani ini mendorong orang untuk semakin bertekun dalam doa. Baginya, Allah adalah segala-galanya.

Dalam perjalanan rohani, akan tiba saatnya seseorang mengalami kekosongan dan kekeringan yang menyengsarakan dalam doa. Doa yang dahulu merupakan relasi intim dengan Allah, kini dialami sebagai tindakan tak bermakna, tidak menyentuh hati, kering, hampa, dan membosankan. Allah, yang dahulu dialami sebagai Allah yang hidup, hadir dekat, dan penuh cinta, kini dialami sebagai Allah yang tersembunyi, jauh, dingin, dan bisu. “Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan?” (Mzm. 10:1); “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku” (Mzm. 22:2).

Kekeringan dalam doa seperti terungkap di atas bisa disebabkan oleh kelalaian pribadi, semangat suam-suam kuku, kemurungan hati, dan atau gangguan kesehatan. Tidak mengherankan bila orang yang bersemangat suam-suam kuku pada suatu ketika akan mengalami doanya terasa tak bermakna. Juga bukan hal yang luar biasa bila orang sulit berdoa dalam keadaan sakit atau galau hatinya.

Namun kekeringan dalam doa dapat pula disebabkan bukan oleh-hal-hal di atas, melainkan oleh Allah sendiri yang hendak menyucikan, menerangi, dan menyatukan pendoa dengan diri-Nya. Kekeringan yang bersumber pada karya Allah inilah yang disebut St. Yohanes dari Salib sebagai “malam gelap” dalam doa. Orang yang dilanda kekeringan mengalami seolah-olah Allah meninggalkannya dalam malam yang gelap gulita.

Ketidakpahaman akan pengalaman di atas dapat menyebabkan orang menjadi putus asa dan meninggalkan doa tatkala dilanda kekeringan. Ia berpikir bahwa kekeringan yang dialaminya merupakan tanda kejauhan Allah atau kemunduran hidup rohaninya. Ia “lari” justru pada saat tangan Allah hendak menariknya agar lebih dekat pada-Nya.

Sekarang masalahnya, petunjuk atau tanda apa saja yang bisa dipakai untuk mengidentifikasi kekeringan doa yang disebabkan oleh karya pemurnian Allah dan membedakannya dari kekeringan yang disebabkan oleh kelalaian pribadi?

Buku kecil ini mencoba menggali dan meringkaskan khazanah pandangan mistikus besar St. Yohanes dari Salib untuk menjawab pertanyaan di atas. Semoga bermanfaat.

Penerbit: Kanisius, 2012

Thursday, December 29, 2011

Ucapan Yesus yang Mengagetkan dan Membingungkan (5)


“Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing” (Mat 15, 27)

Akh, ini sudah berlebihan. Apa tidak ada kata lain yg lebih simpatik? Raja Damai koq ngomong gitu? Racist banget! "Masa sih Yesus bilang begitu", tanya isteriku ketika kudiskusikan hal ini dengannya. "Itu perikopnya, cek aja sendiri", jawabku santai.

Alur cerita dalam perikop ini lumayan jelas. Yesus didatangi seorang perempuan Kanaan yang merengek-rengek supaya Yesus menyembuhkan anaknya yang kerasukan setan. Bagi pembaca zaman sekarang, ucapan Yesus itu jelas mengagetkan dan sulit diterima jika dibandingkan dengan image dan karakter Yesus umumnya. Syukurlah, pesan yang mau disampaikan lumayan jelas terungkap dalam judul perikop: “Perintah Allah dan Adat Istiadat Yahudi”.

Rupanya ada protes dari orang Farisi tentang tindak-tanduk Yesus dan para murid yang dianggap melanggar adat-istiadat nenek moyang mereka. Terjadilah dialog tentang hal itu antara orang Farisi dengan Yesus, dan antara Yesus dengan para murid. (kalo lagi rajin, baca aja sendiri ayat 2-20). Tidak tahu apakah Yesus kesal dengan para murid yang o-on gak ngerti-ngerti, Ia menyingkir ke Sidon. Di situlah perempuan Kanaan (yang dianggap kafir oleh bangsa Yahudi) itu datang menemui-Nya. Para murid merasa bising dengan itu. Ntar kalau dilihat orang Farisi bahwa ada perempuan kafir di antara mereka, masalah bisa muncul lagi. Cape deh.

Tapi pikiran Yesus tidak seperti pikiran para murid-Nya. Setelah diam sejenak (pasti lagi mikir Dia), muncul ide: “Ini kesempatan emas untuk mendidik murid O-on, dan menyampaikan nilai baru buat merevisi adat nenek moyang yang suka mengkafirkan bangsa lain.” Caranya??

Sungguh tak terduga, keluarlah kata-kata kasar itu dari mulut Sang Guru. Kalau saya jadi Yesus, saya harus membungkus kata-kata kasar itu sedemikian rupa agar perempuan itu tidak kapok dan pergi sambil memaki-maki. Bisa dengan sorotan mata yang adem-teduh atau dengan intonasi kalimat yang menimbulkan harapan. Kalau tidak, rencana tentu bisa buyar. Tapi untuk Yesus, mungkin hal-hal itu tak perlu. Dia udah tahu akan keteguhan perempuan tangguh ini. Dan benar, perempuan Kanaan ini maju tak gentar. Dia malah mendekat dan sembah sujud sambil berkata, “….tapi anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.”

Kesabaran dan keteguhan iman perempuan kafir ini mengemuka. Rencana studi kasus nyata untuk para murid tercapai. Yesus mengabulkan permohonannya. “Ini lho, iman perempuan bangsa Kanaan yang dicap kafir oleh nenek moyang kita”, kira-kira begitulah pesan moral yang mau disampaikan Yesus kepada murid-murid-Nya.

Masihkah ucapan Yesus ini tetap dianggap keras dan racist? Menurutku, semakin keras ucapan Yesus, semakin besar pula keteguhan dan kekuatan iman si perempuan kafir yang bisa ditonjolkan. Kalo ucapan-Nya lemah lembut dan penuh tata krama, semangat maju tak gentar perempuan suci itu akan berkurang nilainya.

Ucapan Yesus yang Mengagetkan dan Membingungkan (4)


“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku dating bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” (Mat 10,34)

Bah, kalau ditelan bulat-bulat, ucapan ini bakalan bertabrakan dengan banyak petuah suci untuk menebarkan cinta dan perdamaian di bagian lain Kitab Suci. Ketika bayi Yesus lahir, orang-orang Majus datang dari jauh-jauh untuk menyembah Raja Damai. Ia juga mengajarkan jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Bahkan kalau ada orang tampar pipi kanan, sekalian kasih saja pipi kiri. Berbahagialah orang yang membawa damai, kata Yesus entah di mana. (yang suka hafal ayat, silakan cari sendiri). Dan rasanya, masih banyak lagi ayat-ayat senada lainnya.

Saya pikir, sama seperti ledekan “orang mati menguburkan orang mati”, ucapan ini pun terbingkai dalam konteks syarat pemuridan yang keras. Lukas memakai kata yang lebih halus: “pertentangan” daripada pedang. Anggota keluarga yang tidak setuju anak atau saudaranya pergi meninggalkan keluarga untuk mewartakan Kerajaan Allah tentu akan mengganggap bahwa misi Yesus jelas membawa pertentangan. Hal ini dijelaskan Matius dalam ayat selanjutnya. Kedatangan Yesus bisa saja menyebabkan orang terpisah dari ayahnya, anak perempuan terpisah dari ibunya, menantu dari mertuanya, dan seterusnya. (untuk kasus tertentu, konsekuensi ketiga ini malah dicari-cari, hahahah).

Singkat cerita (panjang-panjang, ntar malah gak dibaca), kalau Yesus bilang, Dia datang bukan untuk membawa damai melainkan pedang, yang dimaksudkan ialah bahwa pertentangan itu merupakan akibat  kedatangan-Nya, dan bukan tujuan kedatangan-Nya. Itulah risiko atau konsekuensi yang mungkin akan menimpa para murid-Nya. Bagus juga sejak awal seseorang diwanti-wanti dulu tentang beratnya risiko menjadi murid, daripada menyesal di kemudian hari.

Ucapan Yesus yang Mengagetkan dan Membingungkan (3)

“Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana” (Luk 9,60). Omong kosong apa ini? Hampir pasti, semua bangsa punya adat dan kewajiban menguburkan orangtuanya yang meninggal. Teristimewa dalam adat Timur Tengah, penguburan orang mati, bahkan orang asing sekalipun, merupakan tindakan yang terpuji. Bagaimana memahami nats yang tampaknya mustahil dan melawan adat ini?

Ucapan ini keluar ketika seorang simpatisan pengikut Yesus ditunjuk untuk bergabung menjadi murid dalam suatu perjalanan.  “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku”, jawab si calon murid. Menanggapi ini, keluarlah ucapan Yesus yang kedengarannya keras dan sulit itu.

Tema utama kisah ini ialah tuntutan pemuridan. Orang yang mau menjadi murid Yesus dituntut untuk memprioritaskan panggilan itu di atas kepentingan-kepentingan lainnya. Tapi ya,.. apa susahnya Yesus menunggu sehari saja dan membiarkan simpatisan itu menguburkan ayahnya? Penguburan orang Yahudi berlangsung tidak lama setelah kematian. Jadi jika ayahnya baru saja meninggal, tentu akan dikuburkan pada hari yang sama. Setelah itu, tentu dia bisa lebih bebas mengikuti Yesus tanpa didera rasa bersalah terhadap almarhum ayahnya.

Saya pikir begini. Jika ayah simpatisan itu meninggal pada hari itu, ia pasti sedang sibuk mengurus penguburan ayahnya. Tidak mungkin dia justru asyik bercengkerama dengan rombongan Yesus. Jadi, ucapan Yesus ditujukan bukan kepada orang yang baru saja ditinggal (mati) oleh ayah atau ibunya dan dengan demikian memikul kewajiban menguburkannya. Ia berbicara kepada orang yang ingin menjadi murid, tetapi mengajukan syarat: “Nantilah, setelah ayahku meninggal”. Atau, “Biarkan aku tinggal di rumah dan memenuhi tanggung jawab merawat orangtuaku dahulu, setelah mereka meninggal dan menguburkannya, aku baru mengikuti Yesus.” Untuk kondisi ini, Yesus berujar: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati.”

Jadi, Yesus ingin mengatakan ada hal yang lebih penting untuk diprioritaskan bagi orang-orang yang dipanggil menjadi murid. Seorang anak tentu wajib berbakti kepada orangtuanya. Namun untuk orang yang dipanggil, Kerajaan Allah harus diletakkan di atas kepentingan lainnya.