Thursday, December 29, 2011

Ucapan Yesus yang Mengagetkan dan Membingungkan (5)


“Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing” (Mat 15, 27)

Akh, ini sudah berlebihan. Apa tidak ada kata lain yg lebih simpatik? Raja Damai koq ngomong gitu? Racist banget! "Masa sih Yesus bilang begitu", tanya isteriku ketika kudiskusikan hal ini dengannya. "Itu perikopnya, cek aja sendiri", jawabku santai.

Alur cerita dalam perikop ini lumayan jelas. Yesus didatangi seorang perempuan Kanaan yang merengek-rengek supaya Yesus menyembuhkan anaknya yang kerasukan setan. Bagi pembaca zaman sekarang, ucapan Yesus itu jelas mengagetkan dan sulit diterima jika dibandingkan dengan image dan karakter Yesus umumnya. Syukurlah, pesan yang mau disampaikan lumayan jelas terungkap dalam judul perikop: “Perintah Allah dan Adat Istiadat Yahudi”.

Rupanya ada protes dari orang Farisi tentang tindak-tanduk Yesus dan para murid yang dianggap melanggar adat-istiadat nenek moyang mereka. Terjadilah dialog tentang hal itu antara orang Farisi dengan Yesus, dan antara Yesus dengan para murid. (kalo lagi rajin, baca aja sendiri ayat 2-20). Tidak tahu apakah Yesus kesal dengan para murid yang o-on gak ngerti-ngerti, Ia menyingkir ke Sidon. Di situlah perempuan Kanaan (yang dianggap kafir oleh bangsa Yahudi) itu datang menemui-Nya. Para murid merasa bising dengan itu. Ntar kalau dilihat orang Farisi bahwa ada perempuan kafir di antara mereka, masalah bisa muncul lagi. Cape deh.

Tapi pikiran Yesus tidak seperti pikiran para murid-Nya. Setelah diam sejenak (pasti lagi mikir Dia), muncul ide: “Ini kesempatan emas untuk mendidik murid O-on, dan menyampaikan nilai baru buat merevisi adat nenek moyang yang suka mengkafirkan bangsa lain.” Caranya??

Sungguh tak terduga, keluarlah kata-kata kasar itu dari mulut Sang Guru. Kalau saya jadi Yesus, saya harus membungkus kata-kata kasar itu sedemikian rupa agar perempuan itu tidak kapok dan pergi sambil memaki-maki. Bisa dengan sorotan mata yang adem-teduh atau dengan intonasi kalimat yang menimbulkan harapan. Kalau tidak, rencana tentu bisa buyar. Tapi untuk Yesus, mungkin hal-hal itu tak perlu. Dia udah tahu akan keteguhan perempuan tangguh ini. Dan benar, perempuan Kanaan ini maju tak gentar. Dia malah mendekat dan sembah sujud sambil berkata, “….tapi anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.”

Kesabaran dan keteguhan iman perempuan kafir ini mengemuka. Rencana studi kasus nyata untuk para murid tercapai. Yesus mengabulkan permohonannya. “Ini lho, iman perempuan bangsa Kanaan yang dicap kafir oleh nenek moyang kita”, kira-kira begitulah pesan moral yang mau disampaikan Yesus kepada murid-murid-Nya.

Masihkah ucapan Yesus ini tetap dianggap keras dan racist? Menurutku, semakin keras ucapan Yesus, semakin besar pula keteguhan dan kekuatan iman si perempuan kafir yang bisa ditonjolkan. Kalo ucapan-Nya lemah lembut dan penuh tata krama, semangat maju tak gentar perempuan suci itu akan berkurang nilainya.

Ucapan Yesus yang Mengagetkan dan Membingungkan (4)


“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku dating bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” (Mat 10,34)

Bah, kalau ditelan bulat-bulat, ucapan ini bakalan bertabrakan dengan banyak petuah suci untuk menebarkan cinta dan perdamaian di bagian lain Kitab Suci. Ketika bayi Yesus lahir, orang-orang Majus datang dari jauh-jauh untuk menyembah Raja Damai. Ia juga mengajarkan jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Bahkan kalau ada orang tampar pipi kanan, sekalian kasih saja pipi kiri. Berbahagialah orang yang membawa damai, kata Yesus entah di mana. (yang suka hafal ayat, silakan cari sendiri). Dan rasanya, masih banyak lagi ayat-ayat senada lainnya.

Saya pikir, sama seperti ledekan “orang mati menguburkan orang mati”, ucapan ini pun terbingkai dalam konteks syarat pemuridan yang keras. Lukas memakai kata yang lebih halus: “pertentangan” daripada pedang. Anggota keluarga yang tidak setuju anak atau saudaranya pergi meninggalkan keluarga untuk mewartakan Kerajaan Allah tentu akan mengganggap bahwa misi Yesus jelas membawa pertentangan. Hal ini dijelaskan Matius dalam ayat selanjutnya. Kedatangan Yesus bisa saja menyebabkan orang terpisah dari ayahnya, anak perempuan terpisah dari ibunya, menantu dari mertuanya, dan seterusnya. (untuk kasus tertentu, konsekuensi ketiga ini malah dicari-cari, hahahah).

Singkat cerita (panjang-panjang, ntar malah gak dibaca), kalau Yesus bilang, Dia datang bukan untuk membawa damai melainkan pedang, yang dimaksudkan ialah bahwa pertentangan itu merupakan akibat  kedatangan-Nya, dan bukan tujuan kedatangan-Nya. Itulah risiko atau konsekuensi yang mungkin akan menimpa para murid-Nya. Bagus juga sejak awal seseorang diwanti-wanti dulu tentang beratnya risiko menjadi murid, daripada menyesal di kemudian hari.

Ucapan Yesus yang Mengagetkan dan Membingungkan (3)

“Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana” (Luk 9,60). Omong kosong apa ini? Hampir pasti, semua bangsa punya adat dan kewajiban menguburkan orangtuanya yang meninggal. Teristimewa dalam adat Timur Tengah, penguburan orang mati, bahkan orang asing sekalipun, merupakan tindakan yang terpuji. Bagaimana memahami nats yang tampaknya mustahil dan melawan adat ini?

Ucapan ini keluar ketika seorang simpatisan pengikut Yesus ditunjuk untuk bergabung menjadi murid dalam suatu perjalanan.  “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku”, jawab si calon murid. Menanggapi ini, keluarlah ucapan Yesus yang kedengarannya keras dan sulit itu.

Tema utama kisah ini ialah tuntutan pemuridan. Orang yang mau menjadi murid Yesus dituntut untuk memprioritaskan panggilan itu di atas kepentingan-kepentingan lainnya. Tapi ya,.. apa susahnya Yesus menunggu sehari saja dan membiarkan simpatisan itu menguburkan ayahnya? Penguburan orang Yahudi berlangsung tidak lama setelah kematian. Jadi jika ayahnya baru saja meninggal, tentu akan dikuburkan pada hari yang sama. Setelah itu, tentu dia bisa lebih bebas mengikuti Yesus tanpa didera rasa bersalah terhadap almarhum ayahnya.

Saya pikir begini. Jika ayah simpatisan itu meninggal pada hari itu, ia pasti sedang sibuk mengurus penguburan ayahnya. Tidak mungkin dia justru asyik bercengkerama dengan rombongan Yesus. Jadi, ucapan Yesus ditujukan bukan kepada orang yang baru saja ditinggal (mati) oleh ayah atau ibunya dan dengan demikian memikul kewajiban menguburkannya. Ia berbicara kepada orang yang ingin menjadi murid, tetapi mengajukan syarat: “Nantilah, setelah ayahku meninggal”. Atau, “Biarkan aku tinggal di rumah dan memenuhi tanggung jawab merawat orangtuaku dahulu, setelah mereka meninggal dan menguburkannya, aku baru mengikuti Yesus.” Untuk kondisi ini, Yesus berujar: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati.”

Jadi, Yesus ingin mengatakan ada hal yang lebih penting untuk diprioritaskan bagi orang-orang yang dipanggil menjadi murid. Seorang anak tentu wajib berbakti kepada orangtuanya. Namun untuk orang yang dipanggil, Kerajaan Allah harus diletakkan di atas kepentingan lainnya.

Rambu Pernikahan 20: Cinta Saja Tak Cukup



“Mengapa Anda menikahinya?” Jawaban terpopuler dan termudah adalah: Cinta! Orang yang melihat perlunya  materi (dalam kadar tertinggi hingga moderat) akan menyeletuk: “Makan tuh cinta!”

Rambu ini tidak bermaksud membicarakan perlu-tidaknya materi. Namun sejalan dengan konteks itu, rambu ini mau mengatakan, hanya cinta semata, memang tidak cukup untuk membina suatu mahligai pernikahan. Rambu ini mau menonjolkan perlunya empati.

Kata orang, cinta adalah perasaan yang diperlukan untuk membuat manusia menjadi ‘gila’ atau kehilangan rasionalitas agar dapat mengambil keputusan menikahi idamannya sesegera mungkin. Tia lebih dibutuhkan sebagai pintu masuk pernikahan, namun bukan penggerak hubungan baik dalam perjalanan berikutnya. Orang sering berpikir, cintalah yang membuat sepasang insan mampu menjalin relasi yang baik. Bukan. Sebaliknyalah yang benar: cinta adalah akibat dari relasi yang baik, bukan penyebabnya.

Yang amat perlu ialah empati. Inilah hal yang memungkinkan relasi baik yang kemudian menumbuhkembangkan cinta yang dijanjikan di hari pernikahan Anda. Setelah gagasan empati muncul di kepala, sulit dibayangkan adanya kualitas lain yang lebih bermanfaat bagi pernikahan. Riset menunjukkan, 90% masalah dalam pernikahan akan lebih mudah teratasi jika pasutri mempunyai empati.

 Empati dalam pernikahan adalah keutamaan (virtue) untuk memandang hal, masalah, atau peristiwa dari perspektif pasangan atau menempatkan diri pada posisi pasangannya. Elemen konstitutif dari keutamaan ini adalah daya-pikir dan daya-rasa yang tertata secara seimbang. Kebanyakan orang dapat melakukan salah satunya dengan baik. Ada orang yang amat sensitif untuk merasakan (berbela-rasa) kepedihan pasangan. Ada yang cerdas memecahkan masalah pasangan dengan daya-pikirnya. Yang sulit adalah melakukan keduanya sekaligus secara seimbang.

Setelah sekian tahun menjalani hidup pernikahan, Anda pasti mempunyai sejumlah label untuk pasangan Anda. Jika Anda mulai berempati, Anda akan mempunyai sudut pandang baru. Anda akan memandangnya secara berbeda dari sebelumnya.

Cobalah untuk berempati, mujizat akan terjadi di luar dugaan Anda. Empati menumbuhkan pengertian yang lebih besar. Pengertian mengundang kesabaran. Kesabaran mengumpulkan kemurahan hati. Kemurahan hati mendatangkan sikap mengampuni.