Monday, September 29, 2008

Untuk Apa ber-Filsafat?



Dalam percakapan sehari-hari, kata filsafat seringkali disamakan dengan kecakapan berdebat. Tidak jarang pula dimengerti sebagai kumpulan “kata mutiara”. Pemahaman ini mereduksi filsafat menjadi cuilan-cuilan yang memang merupakan tampilan luar filsafat. Sesungguhnya filsafat maupun (tindakan) berfilsafat melekat dalam diri kita secara eksistensial. Tanpa disadari, filsafat sudah tumbuh sejak seorang manusia cilik “melihat” diri dan dunia. Pertanyaan si bocah: “Mama, apa ini? Apa itu?” “Papa, kenapa begini? Kenapa begitu?” adalah pencarian filosofis perdana manusia. Filsafat bermula dari rasa kagum, rasa heran, rasa sangsi, dan kesadaran akan keterbatasan manusia dalam alam raya seluas segala kenyataan. Tindakan berfilsafat berada bersama dengan keberadaan manusia. Ketika Anda mengagumi seekor kupu-kupu, merasa heran dan bertanya dari mana asalnya, menyangsikan kemungkinan-kemungkinan penyebabnya, dan berpikir lagi untuk menggali sebab-sebab yang lebih dalam, Anda telah berfilsafat.

Filsafat sebagai “Ilmu”
Keseharian filosofis seperti terungkap di atas menjadi “ilmu” tatkala jalan pemikiran ditata sedemikian sehingga bersifat metodis, koheren, dan sistematis. Dengan demikian, secara sederhana, filsafat dapat didefinisikan sebagai pengetahuan metodis, sistematis, dan koheren yang menyelidiki segala sesuatu dengan mencari sebab-sebab terdalam berdasarkan daya pikiran manusia.

Sifat metodis (menggunakan metode tertentu), koheren (kaitan logis antara ide yang satu dengan yang lain), dan sistematis (pemikiran tertuang dalam keteraturan) membawa filsafat menjadi pengetahuan yang ilmiah.

Lapangan penelitian filsafat mencakup segala sesuatu yang ada. Obyek material dari filsafat ini membedakannya dari ilmu pengetahuan (sains) yang meneliti bidang tertentu dari kenyataan. Pencarian sebab-sebab terdalam menunjukkan obyek formal filsafat. Berbeda dari sains umumnya yang mencari sebab yang dekat (causa proxima), filsafat mau membedah realitas hingga mencapai sebab-sebab terdalam (causa ultima).

Titik tolak daya pikiran manusia membedakan filsafat dari teologi yang mendasarkan pemikirannya pada buku suci agama-agama. Dengan titik tolak ini, filsafat menghasilkan buah pemikiran yang berlaku universal melampaui kotak-kotak agama. Dalam ranah filsafat, semua orang (baik teis maupun ateis) bisa duduk bersama untuk mendiskusikan wacana ketuhanan, kemanusiaan, dan dunia.

Definisi filsafat di atas sekaligus menunjukkan posisi perbedaan filsafat dari sains dan teologi. Perbedaan tidak jarang menimbulkan kesalahpahaman antara ketiga ranah. Tentang hal itu, Bertrand Russel dalam History of Western Philosophy berujar: “Antara teologi dan ilmu pengetahuan terletak suatu daerah tak bertuan. Daerah ini diserang baik oleh teologi maupun ilmu pengetahuan. Daerah tak bertuan ini adalah filsafat.”

Filsafat sebagai Jantung Akademis
Kendati berbeda dari sains dan teologi, peranan filsafat dalam pembentukan dan pengembangan kedua bidang tersebut tidak dapat dilupakan. Dalam sejarah, banyak ilmuwan handal (Albert Einstein, Isaac Newton, Copernikus) dan teolog masyhur (Agustinus, Thomas Aquinas, Ibnu Sina, Ibnu Rushd) adalah filsuf yang piawai. Fakultas Filsafat di universitas sering disebut inter-fakultas, karena sains yang dipelajari dalam fakultas-fakultas lain terbentuk dari pertanyaan-pertanyaan filosofis yang menjadi ilmu. Di sisi lanjut, penelaahan sains tidak jarang menjumpai permasalahan-permasalahan yang membutuhkan refleksi yang tidak lagi termasuk bidang khusus mereka. Permasalahan-permasalahan itu dikembalikan lagi kepada filsafat.

Hal yang sama terjadi dalam penelaahan teologi. Teologi sebagai ekspresi eksistensial manusia selaku makhluk religius tidak dapat mengabaikan sisi manusia selaku makhluk berakal budi. Ungkapan iman pun harus diusahakan agar dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Teologi yang disampaikan tanpa pengujian filosofis terancam menjadi indoktrinisasi dan ideologisasi yang bakal menciptakan fundamentalisme. Pemikiran filosofis membiasakan orang untuk berpikir kritis. Kritis berarti tidak gampang menerima maupun menolak sesuatu sebelum menelaahnya berdasarkan kriteria yang sesuai. Sikap kritis membuat orang untuk selalu mendudukkan persoalan ke tempat yang proporsional. Dalam konteks ini filsafat dapat menjadi jantung akademis bagi sains dan teologi. Dalam fungsi ini, filsafat tidak lagi menjadi “daerah tak bertuan yang diserang baik oleh sains maupun teologi”, melainkan mitra bagi keduanya.

Filsafat Makin Populer
Akhir-akhir ini media massa menunjukkan apresiasi yang besar pada risalah-risalah filsafat. Acungan jempol pantas diberikan kepada sejumlah penerbit buku (misalnya: Mizan, Bentang Budaya, Pustaka Pelajar, Jendela, Jalasutra, dll.) yang tiada hentinya menerbitkan buku-buku filsafat yang bermutu. Barangkali masyarakat luas mulai bosan dengan menjamurnya buku-buku how to, self-help, do-it-yourself dan pelbagai buku tentang kiat-kiat praktis pedoman hidup. Lama kelamaan orang mulai merasa bahwa kiat-kiat itu sebenarnya tidak sepraktis yang dipromosikan. Buku-buku filsafat yang mengasah kemampuan berpikir untuk menemukan sendiri akar masalah kehidupan merupakan perimbangan bagi wacana era baru kita. Dalam kalangan artis, kita melihat minat filsafat dalam diri Dian Sastro dan Rieke Diah Pitaloka. Rak filsafat di toko buku pun mulai dikunjungi pembaca.

Sejauh manakah kaum akademisi telah mengapresiasi peranan filsafat? Sejauh mana lembaga-lembaga sekolah tinggi mengakomodasi kuliah filsafat di samping kuliah sains dan teologi? Sudah selayaknya hal ini menjadi kepedulian bersama di era milenium baru kita.

Lianto

Friday, August 8, 2008

Optical Illusion



Judul ini bukan bercerita tentang seluk-beluk bisnis optikal yang saya geluti. Optical Illusion berkaitan dengan tipuan-tipuan mata atau interpretasi yang keliru ketika mata (indera) mencerap (mempersepsi) suatu obyek. Contoh-contoh berupa gambar yang menunjukkan gejala ini dapat disimak dalam situs Optical Illusions dalam link blog ini. Bermula dari rasa iseng untuk mengunjungi situs ini, akhirnya saya terkesan dan dibimbing kepada kelana filosofis untuk memilah apa yang sejatinya merupakan kenyataan (an sich) dari apa yang hanya “tampak” oleh mata. Manusia melihat matahari terbit dan berkata “Lihat itu, matahari telah terbit”. Kenyataannya, matahari tak pernah terbit maupun terbenam. Sebaliknya, bumilah yang mengitarinya.

Ternyata, manusia sebagai subyek seringkali menilai kenyataan menurut sudut pandangnya. Akibatnya, kenyataan seolah bermakna-ganda, tergantung pada subyek (manusia) yang memandangnya. Obyek yang satu dan sama bisa berarti A bagi saya, sekaligus B untuk orang lain. Pencerahan lain, ternyata apa yang mulanya bagi saya merupakan suatu kemustahilan (coba lihat gambar kubus di atas), seiring berjalannya waktu, bisa menjadi tidak mustahil. Hal ini menunjukkan keterbatasan indera saya sebagai subyek dalam mengenal kenyataan. Apa yang saya dan Anda lihat tidak identik dengan kenyataan dalam dirinya. Sayangnya, tidak jarang orang menghabiskan energi untuk memaksakan opini yang subyektif kepada orang lain. Kerap pula, orang menganggap sesuatu “tidak mungkin” ketika ia tidak mampu mengerjakannya, atau sesuatu itu “tidak ada” ketika ia tidak melihatnya.

Idealisme vs Realisme
Apa itu kenyataan (realitas)? Dualisme Plato berpandangan bahwa realitas dibagi menjadi dua, yakni “dunia-atas” yang merupakan dasar kebenaran dan kenyataan yang kita kenal melalui indera (subyektif). Kenyataan yang dikenal melalui indera (gejala yang tampak) dianggap sebagai bayangan semata. Dualisme ini dalam pelbagai variasi diteruskan oleh Agustinus, Ibnu Sinna, Descartes, hingga berpuncak pada Immanuel Kant. Menurut Kant, kenyataan dibedakan menjadi “kenyataan yang dikenal” dan “kenyataan di seberang pengetahuan” (Das Ding an sich). Das Ding an sich tersembunyi bagi subyek. Antara keduanya, terbentang jurang yang tak terseberangi. Oleh karena itu, apa yang kita anggap realitas, sebenarnya merupakan kenyataan yang dikenal atau tampak bagi kita (subyek). Itulah sebabnya mengapa realitas yang satu dan sama bisa dilihat berbeda oleh beberapa subyek yang mencerapnya. Pandangan ini disebut idealisme. Aliran ini menekankan peranan subyek karena berkat kegiatan subyek, kenyataan menjadi “kenyataan yang dikenal”. Dengan kata lain, kenyataan diberi bentuk dan cap manusiawi.

Berseberangan dengan pandangan di atas, Aristoteles melihat bahwa kenyataan hanya satu, yakni kenyataan yang dikenal melalui indra. Hanya saja, kenyataan yang dikenal bersifat multidimensional. Di dalamnya terdapat dimensi inderawi dan dimensi rohani. Keduanya saling berkaitan erat dan tidak terpisahkan. Di antara kedua dimensi terbentang jarak (bukan jurang) yang tidak mustahil dapat dicapai melalui proses. Aliran ini disebut realisme. Berbeda dari idealisme, realisme menekankan peranan kenyataan (obyek). Manusia sebagai subyek dapat sampai pada pengetahuan yang benar jika “membiarkan kenyataan menyatakan diri”. Untuk Aristoteles, “melalui indera” tidak sama dengan “terbatas pada indera”. Pembedaan ini mengalami bias ketika muncul sejumlah filsuf yang meyamakan keduanya. Akibatnya, realisme ini diabsolutkan menjadi materialisme, empirisme, dan positivisme, yang melihat bahwa tidak ada kenyataan lain selain dari kenyataan yang dapat diverifikasi melalui observasi. Dewasa ini, aliran ini disebut saintisme yang melihat bahwa tidak ada kenyataan lain selain kenyataan yang dapat dibenarkan oleh metode sains. Menurut aliran ini, kenyataan bersifat eka-dimensional: pokoknya mesti EMPIRIS! "Buanglah buku (yang tidak memuat penyelidikan empiris) ke dalam api!", kata David Hume.

Jalan Tengah: Antara Idealisme dan Realisme
Dimanakah Anda berpijak: idealisme atau realisme? Umumnya manusia sulit hidup dengan hal-hal yang berlawanan. Orang sering berpikir bahwa harus ada satu yang benar di antara dua hal bertentangan. Manusia umumnya tidak gampang untuk menerima suatu paradoks (dua hal berbeda/bertentangan tapi benar keduanya, atau masing-masing ada benarnya). Makanya banyak orang lebih berpihak ke kanan atau ke kiri, hitam atau putih (tidak ada abu-abu). Pola pikir ini dikuasai oleh tirani “atau”. Tirani “atau” mendesak orang untuk percaya bahwa keputusan haruslah memilih A atau B, bukan keduanya.

Idealisme Plato-Kant ada benarnya dalam arti kenyataan yang dikenal memang tidak identik dengan kenyataan yang sebenarnya. Realisme Aristoteles-Thomistik ada benarnya dalam hal kenyataan berdimensi inderawi yang harus berproses dan mengalami dinamika menuju kenyataan yang berdimensi rohani. Jarak antara keduanya berdasar pada jarak implisitasi dan eksplisitasi. Dalam eksplisitasi, kenyataan yang dikenal tidak identik (non-identitas) lagi dengan kenyataan-dalam-dirinya. Ini ciri khas pengetahuan manusia. Pengetahuan manusia selalu pengetahuan menurut cara manusia (modo humano). Di samping menjelaskan keterbatasan dan keunikan pengenalan di antara manusia yang satu dengan yang lain, kekhasan cara mengenal yang manusiawi ini juga menjelaskan adanya ketidak-identikan antara kenyataan yang dikenal dengan kenyataan-dalam-dirinya (Das Ding an sich).

Menerima paradoks ini berarti menjaga keseimbangan antara aktivitas (memperoleh) pengenalan dan pasivitas (menerima) pe-nyataan. Jika subyek terlalu aktif, maka kenyataan yang diperoleh akan lebih merupakan kenyataan yang dikenal (subyek aktif; subyektif). Tetapi jika aktivitas subyek bersifat menerima, niscaya kenyataan yang dikenal akan lebih berdimensi rohani; lebih dekat dengan kenyataan yang sebenarnya (obyektif). Kendati Das Ding an sich tersembunyi dan tidak identik sama dengan kenyataan yang dikenal, tidak berarti tia tak dapat didekati.

Membiarkan kenyataan menyatakan diri tidak berarti bahwa subyek melulu pasif. Membiarkan kenyataan menyatakan diri merupakan aktivitas subyek yang bersifat “mendengarkan”. Tampaknya pasif, tapi sesungguhnya “mendengarkan” lebih aktif dari yang dapat dibayangkan. Lihat saja, manusia umumnya lebih gampang untuk berbicara daripada mendengarkan.

Kendati tampaknya subyeklah yang aktif dalam pengenalan obyek, dari segi isinya, subyek sama sekali tergantung pada obyek. Kekeliruan justru terjadi karena subyek tidak atau kurang membiarkan obyek (kenyataan) “berbicara” atau menghadirkan dirinya. Matahari tetap tidak terbit dan terbenam meskipun manusia tetap ngotot mengatakannya terbit dan terbenam. Pohon jambu tetaplah pohon jambu tidak tergantung pada subyek yang mengatakannya sebagai pohon beringin. Obyeklah yang menentukan apa yang saya lihat, bukan sebaliknya. Jelas bahwa esse mendahului cognoscere. Kenyataan diketahui karena memang ber-ada, dan bukan berada karena diketahui.

Akhirnya, pengetahuan akan ketidak-identikan antara Das Ding an sich dengan kenyataan-dikenal yang terbatas mengindikasikan adanya kenyataan tak terbatas, satu, dan identik dalam diri subyek. Sebagaimana suatu lingkaran tidak sempurna mengindikasikasikan pengetahuan tentang lingkaran sempurna yang ada dalam diri subyek. Ini berarti bahwa pengetahuan berawal dari kenyataan yang satu, identik, dan tak terbatas. Menjadi terbatas, “dua”, dan non-identik ketika pengetahuan dieksplisitasi (diungkapkan). Pengetahuan manusiawi itu obyektif sekaligus relatif; identik sekaligus tidak-identik; tak terbatas sekaligus terbatas; imanen sekaligus transenden!

Lianto
Sumber: Kuliah Filsafat Pengetahuan Adelbert Snijders

Tuesday, August 5, 2008

Gereja dan Negara



Gereja dan politik adalah saudara kandung. Mereka terkait erat karena mempunyai kepedulian yang sama. Politik sejatinya adalah upaya pemenuhan kesejahteraan umum (bonum commune). Gereja sendiri (baik dalam arti institusi maupun umat Allah) terpanggil untuk menghadirkan Kerajaan Allah di dunia. Kerajaan Allah yang dimaksud adalah situasi hidup manusia di mana kebenaran, keadilan, dan kedamaian mendominasi dunia. Karena mereka itu sekandung, keduanya semestinya punya hubungan baik, namun tidak boleh “dinikahkan”. “Pernikahan” Gereja (sebagai institusi) dan negara (politik) melahirkan bencana. Hal ini nyata dari sejarah kelam Gereja Katolik ketika urusan Gereja dan urusan negara (politik) disatukan.

Sejarah Gereja membuktikan bahwa ketika gereja menjadi “gereja-negara” dan negara menjadi “negara-gereja”, keduanya berakhir pada jalan buntu. Tatkala negara mendominasi (Gereja), gereja direduksi menjadi hanya lembaga sekular manusiawi. Padahal Gereja adalah persekutuan rohani yang dibentuk Allah sendiri. Sebaliknya, ketika Gereja mendominasi (negara), negara disakralkan, dan kebijakan negara (politik) disejajarkan dengan isi wahyu. Tanpa pemilahan yang jelas, hubungan keduanya justru menjadi carut-marut. Keduanya saling eksploitasi dengan aneka trik. Kredibilitas keduanya merosot di mata rakyat dan umat.

Pemilahan antara kedua saudara kandung tersebut harus diperjelas teristimewa dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia. Umat Allah (Gereja) semestinya membedakan peran mereka dalam politik di satu pihak sebagai pribadi atau kolektif selaku warganegara, dan di lain pihak berperan dalam tugas kemanusiaan atas nama Gereja. Gereja sebagai institusi harus menghindarkan diri dari keterlibatan politik (praktis) berdasarkan agama yang dapat menyebabkan perpecahan dalam masyarakat majemuk. Di samping itu, bila menyimak pelbagai praktek politik berbasis agama, agama biasanya hanya menjadi palu di tangan politisi, yang setelah dipakai kemudian dilempar kembali ke kotak perkakas.

Pemilahan antara Gereja dan politik tidak berarti bahwa umat kristiani tidak boleh terlibat dalam kegiatan politik. (Perlu dipilah jelas makna Gereja sebagai institusi dan sebagai umat Allah). Justru sebaliknya, umat kristiani sebagai Gereja yang terpanggil untuk menghadirkan kebenaran, keadilan, dan kedamaian harus terlibat proaktif dalam upaya pemenuhan kesejahteraan umum yang merupakan tujuan dari politik. Setiap umat kristiani bersama seluruh komponen bangsa harus mengupayakan kesejahteraan umum dan keadilan sosial. Berbagai kerusuhan massa seperti pembunuhan massal, pembakaran/penutupan gereja, ancaman bom, dan aneka bentuk diskriminasi menunjukkan realita negara tidak mampu memberikan perlindungan kepada rakyatnya. Ini berkaitan dengan kebijakan politik para negarawan. Keterlibatan umat kristiani dalam proses politik diharapkan dapat ikut mempengaruhi pengambilan kebijakan politik yang lebih adil. Dengan kata lain, politik merupakan salah satu jalan dan arena di mana nasib dan masa depan seluruh rakyat ditentukan. Melihat kondisi Indonesia, keterlibatan umat kristiani dalam proses politik bukan lagi suatu pilihan fakultatif, melainkan telah menjadi kebutuhan yang mendesak. Atas nama perlindungan martabat manusia, umat kristiani selaku Gereja yang terpanggil menghadirkan Kerajaan Allah wajib bersuara lantang di manapun martabat manusia ditindas dan direndahkan.

Bagaimana dengan selentingan bahwa Gereja tidak boleh terlibat dalam politik praktis? Dalam konteks ini, makna Gereja yang dituju adalah institusi dan hirarki religius (uskup, imam, diakon). Dalam pandangan Katolik, Gereja sebagai institusi keagamaan dan kaum religiusnya (uskup, imam, diakon) harus berada di luar koridor politik praktis. Konkritnya, uskup-imam-diakon tidak boleh ikut dalam partai politik atau memegang jabatan politik. Tetapi mereka tetap bisa dan harus “berpolitik” dalam arti menyuarakan keadilan, damai, dan kebenaran demi perbaikan kesejahteraan umum. Hal ini sesuai dengan teladan Yesus yang tak terbendung dalam meneriakkan keadilan dan kebenaran, namun menolak ketika rakyat menginginkan-Nya menjadi raja (mesias) duniawi. Gereja sebagai institusi keagamaan pun tidak mendirikan partai politik. Partai dengan embel-embel “Katolik” tidak didirikan oleh Gereja sebagai institusi. Itu adalah manifestasi politik sebagian umat Allah yang mungkin terpanggil untuk berpartisipasi dalam perbaikan kesejahteraan umum melalui proses politik. Gereja sebagai institusi, bersifat netral, tidak memihak maupun menolak pihak mana pun. Deklarasi Kaukus Dai Cross, forum di Bandung yang mengatasnamakan umat Kristiani dan Katolik untuk secara terbuka mendukung pasangan Danny Setiawan dan Iwan Sulanjana pada Pilkada Jabar 13 April yang lampau adalah suatu kesalahan. Kaukus Dai Cross telah secara tak bertanggung jawab membangun klaim sepihak yang tidak benar. Ini contoh praktek politik yang berniat memanfaatkan agama sebagai kendaraan politik.

Dalam kancah pilkada yang sedang marak dewasa ini, umat Allah dipanggil untuk berpartisipasi aktif dalam memilih secara bebas calon yang dianggap dapat meningkatkan kesejahteraan umum. Dengan menjatuhkan pilihan yang tepat sesuai dengan hati nurani, kita telah ikut berperan dalam proses politik untuk menentukan masa depan yang lebih baik dan demokratis. “Suara hati yang benar seorang Kristen tidak akan membiarkan dirinya untuk memilih sebuah program politik atau hukum yang menentang isi fundamental ajaran iman dan moral” (The Participation of Catholics in Political Life, 2002). Ini adalah pedoman etis dari Vatikan untuk setiap umat Katolik dalam partisipasi politik. ****

Lianto

Tuesday, July 29, 2008

Aku Percaya, Maka Aku Bertanya



Akhir-akhir ini umat beriman beruntun diresahkan oleh pelbagai literatur yang dianggap mengguncang keyakinan. Setelah The Da Vinci Code berlalu, kini rak toko buku dipenuhi dengan karya-karya sensasional, antara lain: The Jesus Family Tomb (Simcha Jacobovici dan Charles R. Pellegrino), Misquoting Jesus (Bart D. Ehrman), The Jesus Dinasty (James Tabor), dan The Lost Gospel (Herb Krosney, tentang Injil Yudas). Keyakinan kita yang terpelihara selama berabad-abad serasa ditelanjangi. Keraguan terbersit. Sebagian orang memilih diam dan membiarkan pikiran tidak beranjak untuk menelisik lebih jauh. Yang lain mencoba menanggapi keraguan dengan menelaah dan mengolah pikiran untuk menemukan kebenaran yang teguh.

“Keraguan adalah bagian dari cinta akan kebenaran”, kata Ernest Renan. “Ketakpernahraguan” sesungguhnya lebih mencerminkan apatisme ketimbang keteguhan pada keyakinan. Keraguan adalah karakter intrinsik makhluk insani berakal budi. Orang yang mengecam keraguan justru adalah orang yang ragu-ragu. Bila kita yakin apa yang kita percayai adalah kebenaran, mengapa kita takut dan gerah ketika kebenaran itu diuji? Pepatah Cina mengatakan: “Emas murni tak takut pada api (cen cing put pha huo)”. Dibakar dengan api apa pun, emas murni tetaplah emas murni. Begitu pula dengan kebenaran. Apakah keraguan mengakibatkan hilangnya iman, masih harus diteliti lebih jauh. Tapi benar bahwa keraguan dan sikap kritis dapat mengubah beberapa sudut pandang. Tanpa tekanan media sensasional di atas pun, sikap iman akan berkembang seiring dengan waktu. Bila dulu, segala hal diterima begitu saja, sekarang kita membutuhkan telaah yang lebih dalam. Kendati demikian, keterbatasan daya nalar tetap menyadarkan bahwa kita tidak bisa memiliki jawaban yang pasti untuk segala sesuatu.

Dalam tanggapan atas karya Da Vinci Code, Romo Franz Magnis-suseno dalam Tempo edisi 28 Mei 2006, berujar: “Yang saya anggap sebagai tragedi banyak orang Kristen ialah bahwa mereka menarik kesimpulan cengeng dari bahaya-bahaya itu. Daripada menanggapinya sebagai tantangan, mereka mengutuknya sebagai anti-Tuhan, dan lari ke dalam jemaat-jemaat tempat mereka merasa aman dari dunia buruk,…. Bagi saya, sikap ini melarikan diri dari perutusan Gereja ke dalam dunia….” Keraguan yang menerpa pikiran tak perlu dianggap ancaman. Lagi pula Gereja telah melewati abad-abad “pertengahan”: abad di mana kita berada pada tahap “mediocare”, setengah-dewasa. Kita telah melewati “masa banteng”. Tatkala sesuatu membuat marah, seekor banteng menurunkan tanduk, menaikkan buntut, mata memicing tajam menuju sasaran, tanpa pikir panjang, menyerang lurus ke depan.

Karya-karya sensasional di atas menantang kita untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Apakah Yesus memiliki anak dari Maria Magdalena? Apakah benar kuburan-Nya sekeluarga telah ditemukan? Apakah Ia pura-pura mati, menyelinap pergi, dan melarikan diri ke Mesir? Apakah ayah kandung-Nya bernama Panthera? Apakah Injil-injil bisa dipercaya? Adakah sumber lain yang lebih lengkap tentang hidup Yesus? Dan yang paling parah: Apakah Yesus sungguh-sungguh pernah hidup? Sungguh, tak pernah terbersit sedikit pun dalam pikiran bahwa pertanyaan-pertanyaan seperti ini dapat diajukan. Para penulis tampaknya cenderung mencari sumber di luar keempat Injil untuk mendapatkan data tentang Yesus. Padahal dari sisi historis maupun arkeologis, keempat Injil merupakan bahan tertua. Ironisnya, mereka lebih berminat pada kitab-kitab abad-abad selanjutnya. Anehnya, tiga karya yang disebut terakhir di atas berasal dari ahli yang berkompeten. Tampaknya rasionalitas dan obyektivitas telah ditarik dari sumbu rodanya.

Itulah tantangan iman zaman baru kita. Jika dahulu Yesus disalibkan oleh pemuka agama Yahudi dan penguasa Roma, kini Dia disalibkan oleh media massa. Mereka memaku-Nya dengan pasak pena, menikam-Nya dengan gambaran fiksi berkedok fakta; legenda dan mitos bertopeng sejarah. Dalam penyaliban ini, di mana posisi kita? Pontang-panting melarikan diri, berdiri jauh-jauh, atau ada di kaki salib-Nya?

Masalah yang lebih utama bukanlah ancaman semu yang muncul dari karya-karya sensasional yang dianggap menggoyahkan keyakinan. Masalahnya ada dalam diri kita. Sejauh mana kita berani menelisik keyakinan iman kita. Barangkali kita lebih tenang dan merasa aman dengan “angin surga” yang melingkungi keyakinan-keyakinan kita. Kita tidak siap menghadapi kemungkinan untuk hidup dengan iman yang resah. Yang kita dambakan mungkin keyakinan tanpa gangguan seolah kehidupan merupakan jalan lurus dan rata.

Keraguan dan bertanya adalah awal pengetahuan dan wujud nyata kecintaan akan kebenaran. Paradigma harus diubah. Bukan: “Aku tak percaya, maka aku bertanya, melainkan “Aku percaya, maka aku bertanya”. Credo ergo interrogo! Aku percaya, dan untuk meneguhkan kepercayaan, maka aku bertanya. Keyakinan pun sedapat mungkin dipertanggungjawabkan secara rasional. Rasional tapi bukan rasionalistik! Yang dibutuhkan adalah rasionalitas, bukan rasionalisme! Rasionalistik adalah ciri dari rasionalisme. Rasional berarti menelaah anggapan atau kepercayaan dengan akal sehat. Sementara rasionalistik mengharuskan segala sesuatu diuji terlebih dahulu sebelum diterima. Rasionalisme radikal menuntut agar orang tidak menerima kepercayaan sebelum terbukti benar. Dalam banyak hal, sikap rasionalistik tidak mungkin terlaksana dan tidak perlu! Tidak mungkin kita harus selalu menguji apakah setiap jembatan yang akan kita lewati masih kuat. Sikap rasionalistik juga tidak perlu, karena kita bukanlah manusia pertama dan satu-satunya yang hidup di dunia. Maka tidak mungkin dan tidak perlu kita memastikan segala sesuatu sendirian. Kita bisa percaya pada orang lain dan mendasarkan diri pada pelbagai tradisi yang memuat pengalaman generasi-generasi terdahulu. Sesekali kita dapat bertanya dan bertanya untuk memperoleh pemahaman yang lebih dalam dan sesuai dengan zaman kita.

Karena kita diberi anugerah khusus akal budi sebagai makhluk insani, marilah kita memanfaatkannya. Kita tidak lebih suci dan saleh dengan mengatakan bahwa keyakinan harus diterima kendati bertentangan dengan akal sehat. Apa boleh buat, kita hidup sekarang dan di sini. Kita tidak hidup di zaman para Rasul, seperti Petrus, yang ke mana-mana membawa pedang terhunus. Kita juga aman dari penguasa yang berusaha memberanguskan kekristenan di zaman Nero. Setiap zaman memiliki tantangan dan tanggung jawab yang berbeda. Zaman baru ini menuntut agar kita ke mana-mana selalu siap dengan akal budi terus bernyala. Baiklah kita menaruh lentera budi anugerah Tuhan bukan di dalam tempayan, melainkan di tempat yang tinggi untuk menerangi kegelapan dunia.

Lianto