Thursday, July 8, 2010

Kontemplasi St. Fransiskus dalam Kidung Saudara Matahari




Kata “kontemplasi” sering secara keliru dicampuradukkan dengan “meditasi”. Pada dasarnya, baik meditasi maupun kontemplasi merupakan cara-cara berkomunikasi dengan Allah. Dalam meditasi, kita berkomunikasi dengan Allah melalui daya-daya diskursif, misalnya merenungkan, menggambarkan, menimbang-nimbang, atau memikir-mikirkan Allah dan karya-Nya. Di sini akal budi memegang peranan utama dan aktif. Sementara dalam kontemplasi, usaha-usaha diskursif tersebut diistirahatkan. Mulut dan budi diam. Orang hanya “memandang” Allah dengan penuh perhatian. Hati berdoa tanpa kata; kehendak dibakar oleh api kerinduan untuk bersatu dengan Allah.

Menurut Groenen, dalam kontemplasi, orang “memandang” sesuatu dengan intensif dan menyeluruh sehingga ia menerobos permukaannya yang tampak dan mencapai kesejatian atau hakekatnya yang paling dalam. Seorang kontemplatif tidak terkungkung pada apa yang tampak oleh mata. Ia memandang realitas dengan mata hati yang transparan sehingga dalam pertemuan dengan sesama ciptaan, ia menemukan jejak Allah Sang Pencipta. Ia adalah seorang yang di atas dan dalam segala hal mencintai Allah. Carlos Correa Pedroso menyatakan: “Dalam segala sesuatu yang diperhatikannya, orang kontemplatif melihat dan mendengar panggilan yang penuh daya untuk ‘kembali ke rumah’; kembali kepada Sang Cinta.”

Kendati St. Fransiskus tidak menetapkan bagi dirinya dan ordonya suatu gaya hidup kontemplatif, tak dapat ditolak bahwa dia sungguh berkharisma kontemplatif. Kharisma itu sangat menonjol dalam “pandangan” mata hatinya yang menembus realitas segenap ciptaan hingga ia menemukan Allah dalam dan melalui ciptaan. Kontemplasi alam ini secara menonjol dan istimewa terungkap dalam karya agungnya: Kidung Saudara Matahari (KidMat).

Malam Gelap yang Terang
Menurut Legenda Perugina (edisi Marinus Bigaroni, OFM), KidMat dikarang Fransiskus dalam kondisi jasmani-rohani yang amat menyedihkan. Ia dihinggapi depresi hebat, merasa ditinggalkan Tuhan, dan bimbang apakah ia akan memperoleh kembali cinta kasih Tuhan yang dirindukannya. Ia mengalami “malam gelap” yang menyengsarakan sehingga daya jiwanya seakan tidak tahan lagi untuk menanggungnya. Kala itu, penyakit matanya sudah menahun sehingga ia tidak tahan dengan cahaya matahari di siang hari maupun api di malam hari.

Menarik untuk disimak, dalam keadaan yang memprihatinkan itu, ia justru “melihat” keluhuran, kekuasaan, dan kebaikan Allah yang tercermin dalam alam semesta. Daya “penglihatan” inilah bukti kharisma kontemplatifnya. Ia tetap melihat dengan transparan kebaikan kasih Allah dalam penderitaannya yang amat sangat. Hal ini memperlihatkan kedalaman imannya yang melihat kasih Allah sebagai kebenaran yang tak perlu dibuktikan, sekalipun hidup penuh derita. Terlepas dari rasa indera yang menyakitkan, Fransiskus menangkap hakekat cinta ilahi yang hadir dalam ketidakhadiran; Terang yang sedemikian terang sehingga membutakan mata inderawi yang menatap-Nya. Pengalaman akan kehadiran dan kebaikan itu diungkapkan dalam puja-puji awal KidMat yang akan membangkitkan bulu-roma orang yang mencoba meresapinya.

Tuan Saudara Matahari
Unsur makrokosmos dalam KidMat diawali dengan Matahari yang disapa sebagai “Tuan” dan “Saudara” dan ditutup dengan Pertiwi (tanah) yang disapa sebagai “Ibu” dan “Saudari”. Struktur sastra ini menarik sekali karena pasangan kosmis ini juga tertemukan dalam kultus dewa matahari dalam agama-agama kuno, di mana matahari dilihat sebagai pasangan ibu pertiwi yang menyebabkan keberadaan seluruh elemen alam lainnya (Eloi Leclerc, 1976). Kharisma kontemplatif jelas di sini karena pujian ini justru dilambungkan pada saat Saudara Matahari dialami sebagai hal yang menyakitkan. Fransiskus tentu tahu dan merasa bahwa matanya yang hampir buta sangat peka terhadap cahaya terik matahari. Ia juga tentu tidak lupa bahwa panas terik mentari Timur Tengah telah menyebabkan persoalan serius bagi matanya selama perjalanan misi damainya di tengah kaum muslimin. Ia juga tahu betul akan bahaya kemarau panjang yang dapat menghanguskan hasil bumi. Tetapi Fransiskus “memandang” secara positif, menerobos kulit luar Saudara Matahari, dan menemukan hakekat baiknya.

Saudari Bulan dan Bintang
KidMat juga dapat disebut “Kidung Malam”. Setelah memuji Allah dalam dan melalui Saudara Matahari, Fransiskus meneruskan pujiannya melalui keberadaan Bulan dan Bintang yang disapanya sebagai saudari yang gemerlapan, megah, dan indah. Dalam bagian ini, kharisma kontemplatif Fransiskus harus dilihat dari pandangannya yang positif atas “malam”. Untuk banyak orang, malam hari adalah saat yang menakutkan. Para pencuri biasanya bergerak pada malam hari. Simbolisme kisah penciptaan memandang malam sebagai kegelapan kematian yang harus dipisahkan dari terang yang baik (Kej. 1:5). Dalam tradisi Injil Yohanes, malam dikaitkan dengan situasi gelap yang menyebabkan kejatuhan (Yoh. 11:10). Dalam konteks pembicaraan tentang parousia (kedatangan Kristus di akhir zaman), Paulus menyebut orang-orang yang tidak percaya sebagai “orang-orang malam” (1Tes. 5:5-6). Kontemplasi Fransiskus lagi-lagi kembali menerobos cara pandang biasa dan menemukan “malam” yang indah karena Saudari Bulan dan Bintang. Dalam (karena) dan melalui mereka, segala pujian kepada Tuhan Pencipta pantas dikidungkan. Baginya, Saudari Bulan dan Bintang merupakan lentera di malam gelap.

Aspek yang tidak kalah menarik ialah nilai (sifat) yang dikenakan pada Saudari Bulan dan Bintang. Mereka disebut “gemerlapan, megah, dan indah”. Di antara ketiga kata sifat itu, kata “megah” paling menarik perhatian. Dalam karya-karya Fransiskus, kata “megah” hanya ditemukan ketika Fransiskus berbicara tentang Tubuh dan Darah Kristus dalam Ekaristi. Kata ini dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang sangat berharga dan sakral.

Saudara Angin, Air, Api
Fransiskus bukan tidak tahu bahwa angin terasa tajam di musim dingin. Hal itu dirasakannya sendiri di bulan September di La Verna ketika cuaca tidak mengenakkan karena angin. Angin badai juga dapat menenggelamkan kapal. Begitu pula dengan air dan api yang tidak jarang dapat menghancurkan tempat tinggal, hutan, bahkan merenggut nyawa. Namun Fransiskus melihat hakekat mereka sebagai ciptaan yang sejatinya baik dan berguna. Dalam dan melalui mereka, Fransiskus melantunkan pujian indah kepada Penciptanya.

Indahnya Pengampunan dan Saudari Maut
Kala itu terjadi perselisihan antara uskup Asisi (Guido) dan podesta/walikota (Oportolo Bernardi). Mendengar hal itu, Fransiskus sangat sedih. Ia mengutus dua saudara untuk mengumpulkan kedua pihak dan orang-orang terkemuka di halaman istana uskup. Kedua saudara menyanyikan kidung itu di hadapan mereka. Kemudian terjadilah mukjizat seperti yang diharapkan Fransiskus. Nyala kebencian berubah menjadi nyala cinta. Uskup dan podesta saling mengampuni, berpelukan, dan berdamai kembali atas cara yang mengharukan.

Ketika mendapat kepastian dari dokter (Yohanes Arezzo) bahwa ajalnya telah dekat, Fransiskus menambahkan bait baru tentang kematian yang disapanya sebagai Saudari Maut. Padahal bagi banyak orang, maut merupakan hal yang paling ditakuti. Kisah Ketiga Sahabat mencatat bahwa Fransiskus menyambut Saudari Maut-nya dengan penuh keriangan kepada Tuhan. Ia mengajak para saudaranya untuk bernyanyi dengan gembira tatkala maut menjemputnya. Kegembiraannya sedemikian mencolok sehingga Sdr. Elias tidak tahan dan menegurnya. Vita mutatur, non tollitur. Hidup diubah, bukan dibuang.

Cara pandang kontemplatif Fransiskus sepatutnya menginspirasi kita. Cara pandang seperti ini dewasa ini populer dengan istilah inside out; melihat dan menilai sesuatu dengan menyelam ke hakekat yang paling asasi. Seringkali masalah yang kita hadapi tak kunjung beres karena kita terpaku pada hal-hal lahiriah yang tampak. Kita tidak melihat akar masalah. Fransiskus melalui KidMat mau memperlihatkan bahwa segala sesuatu yang diciptakan Tuhan baik adanya. Semuanya diciptakan untuk kebaikan manusia. Oleh karena itu manusia hendaknya dapat memuji kebesaran Tuhan dalam dan melalui segenap ciptaan. Fransiskus melihat bahwa dirinya dan segala makhluk berada dalam tatanan keluarga. Ia sungguh merasa bersaudara dengan sekalian makhluk. Selayaknya manusia selalu sadar untuk solider dan berbela-rasa (compasio) dengan segenap alam ciptaan-Nya. Tentang cara pandang kontemplatif ini dalam diri Fransiskus, Chesterton berujar bahwa Fransiskus telah membuat salto untuk memandang segala makhluk dari pihak Allah. Dari pandangan Allah, Fransiskus memandang segala makhluk baik adanya.

Lianto

Sunday, April 11, 2010

Siapa Bilang Maria Magdalena Pelacur?


Tidak tahu lagi, bermula dari alasan apa dan dari siapa, Maria Magdalena dalam Injil digambarkan sebagai seorang pelacur. Nyaris dalam tiap pembicaraan atau ulasan, bahkan kotbah di gereja, orang suka menambahkan embel-embel “pelacur” pada pribadi ini. Atribut itu telah menjadi pandangan umum entah sejak kapan hingga sekarang. Apa dasarnya? Kitab Suci bagian manakah yang mengatakannya? Sungguh disayangkan, sangkaan tak berdasar itu dikenakan kepada orang (perempuan) pertama yang membawa kabar tentang kebangkitan Yesus. Tulisan ini mencoba memulihkan nama baik Maria Magdalena.

Identifikasi yang tidak akurat atas Maria Magdalena disebabkan oleh sedemikian banyak nama Maria dalam Injil. Rupanya nama “Maria” di kalangan orang Yahudi adalah nama yang pasaran. Ada Maria, ibu Yesus. Figur ini tidak punya masalah terkait kasus kita. Ada Maria saudari Marta dan Lazarus yang muncul dalam Lukas dan Yohanes. Ada lagi Maria, ibu Yakobus (Mat 27:56), Maria isteri Klopas (Yoh 19:25), bahkan “Maria yang lain” (Mat 27:61; 28:1). Banyaknya pribadi bernama Maria dalam Injil terkadang membuyarkan pemilahan yang jelas dalam pikiran pembaca. Lebih jauh, beberapa karakter sejumlah perempuan lain juga dikenakan pada Maria Magdalena tanpa dasar yang kuat. Mari kita telusuri satu demi satu.

Injil (Mrk 16:9; Luk 8:2) memperkenalkan Maria Magdalena sebagai seorang perempuan yang darinya Yesus mengusir tujuh roh jahat. Dia merupakan salah satu dari rombongan perempuan yang setelah disembuhkan, mengikuti dan melayani Yesus dan para murid (Luk 8:1-3). Atribut itu silakan dipegang teguh. Maria Magdalena ini berbeda dari Maria, saudari Marta dan Lazarus, yang digambarkan dalam Lukas dan Yohanes. Lukas melukiskan Maria ini sebagai murid dengan sikap terpuji: duduk di dekat kaki Yesus dan mendengarkan ajaran-Nya. Sedangkan Yohanes mencatat bahwa Maria, saudari Marta ini, meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal, kemudian menyeka dengan rambutnya.

Kesalahan umum terbesar adalah menyamakan Maria Magdalena ini (yang disembuhkan Yesus dari kuasa tujuh roh jahat) dengan dua perempuan lain (tak ada catatan namanya) yang diceritakan dalam ketiga Injil Sinoptik dan Injil Yohanes.
Perempuan pertama diceritakan oleh ketiga Injil Sinoptik (Mat 26:6-13; Mrk 14:3-9; Luk 7:36-50) sebagai perempuan yang datang mendekati Yesus dengan membawa tempayan berisi minyak yang mahal ketika Yesus sedang makan di rumah seorang pemimpin Yahudi bernama Simon. Kalau kita baca ketiga perikop di atas, semuanya secara tersirat (implisit) melukiskan bahwa perempuan itu bukanlah orang yang termasuk rombongan yang selama ini selalu mengikuti dan melayani Yesus dan para murid. Misalnya Lukas 7:37 menulis: “Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia....” Jika perempuan ini adalah Maria Magdalena yang selama ini mengikuti Yesus, dia pasti tahu Yesus ada di mana dan tidak perlu “mendengar” dari orang lain. Jelas bahwa perempuan ini hanya “figuran” yang muncul sebentar lalu hilang.

Perempuan kedua diceritakan Injil Yohanes (8:3-11) sebagai perempuan yang diseret para ahli Taurat dan orang Farisi ke hadapan Yesus karena kedapatan berbuat zinah. Hal itu dilakukan untuk menjebak Yesus. Menurut hukum, perempuan itu harus dirajam. Yesus mempersilakan hadirin yang merasa diri tidak punya dosa untuk melemparkan batu pertama. Satu demi satu hadirin bubar, mulai dari yang tertua. Akhirnya Yesus berkata kepada perempuan itu, “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi”. Coba selidik, Injil tidak menyebut nama perempuan itu. Di mana dasar argumen yang mengidentikkan perempuan ini sebagai Maria Magdalena? Masih mendingan orang menyamakan perempuan yang kedapatan berzinah ini dengan perempuan yang meminyaki Yesus di rumah Simon, mengingat kedua-duanya tidak disebutkan nama dan sama-sama dianggap orang yang berdosa. Walaupun masih terbuka kemungkinan luas bahwa mereka adalah dua perempuan yang berbeda. Tetapi mengaitkan atau menyamakan mereka sebagai Maria Magdalena sama sekali tidak berdasar dan ngawur. Kesaksian Injil menyebut dengan jelas nama Maria Magdalena dalam tiap kejadian di mana dirinya terlibat. Jika kedua perempuan tersebut dimaksudkan sebagai Maria Magdalena, kiranya tidak ada alasan bagi para penginjil utk tidak menyebutkan namanya.

Lebih jauh lagi, berkaitan dengan atribut “pelacur”, Injil juga tidak menyebut hal itu. Perempuan yang berdosa dan atau yang kedapatan berbuat zinah tidak secara otomatis dapat diidentikkan sebagai pelacur. Saya curiga, atribut “pelacur” hanyalah imaginasi liar kaum lelaki yang membatasi dosa kaum perempuan hanya pada dosa seksual. Logika sesatnya, kalau perempuan berdosa, itu pasti dosa karena pelacuran. Kesalahan berlapis yang dilakukan orang selama ini ialah: salah menyamakan Maria Magdalena sebagai kedua perempuan berdosa itu dan lebih salah lagi: menyebutnya sebagai pelacur.

Hal inilah yang mau diklarifikasi melalui tulisan ini. Kasihan Maria Magdalena, selama berabad-abad, diulas dalam tulisan, film, diskusi, cerita lisan dan sebagainya selaku seorang pelacur yang bertobat. Stigma ini harus dihentikan, bukan karena ingin mengutuk tindak pelacuran, melainkan karena identifikasi itu sama sekali tidak punya dasar alkitabiah. Dengan demikian kita bisa membaca figur Maria Magdalena, salah satu tokoh sentral dalam Gereja Perdana ini dengan paradigma baru. Dialah yang setia mengikuti perjalanan Yesus dari Galilea hingga disalibkan di Yerusalem. Dia ada bersama Bunda Maria di bawah kaki salib Yesus. Dia juga yang setia menunggui kubur Yesus. Dialah yang pertama melihat Yesus yang bangkit dan mengabarkannya kepada para rasul. Dalam tradisi sesudahnya, bahkan Maria Magdalena disebut rasul (“yang diutus”) kepada para rasul.

Lianto

Tuesday, March 16, 2010

Kebangkitan Yesus, Fakta Historis?



Sebagian orang tidak pernah atau merasa tidak relevan meragukannya. Kebangkitan Yesus tertulis dalam Injil. Habis perkara. Ada yang mempertanyakan apakah kebangkitan itu fakta historis? Ataukah hanya fiksi atau suatu episode yang dibuat untuk mengenang Yesus? Bisakah Injil dipercaya sebagai rekaman atas peristiwa yang betul-betul terjadi? Jika kebangkitan itu fakta historis, bagaimana rupa Yesus yang bangkit itu? Puluhan pertanyaan dapat diajukan berkaitan dengan kebangkitan.

Kritisisme atas naskah kuno mengangkat berbagai wacana tentang redaksi berlapis, otentisitas, dan warna sastra tertentu yang mewarnai ayat demi ayat Kitab Suci. Hal itu telah menimbulkan kesangsian dan pertanyaan seputar mana bagian kisah yang otentik dan mana yang tidak. Jika orang tidak percaya atau meragukan apa yang tertulis dalam Injil perihal kebangkitan, saya memang tidak memiliki sumber lain untuk menyambung pembicaraan. Mengapa? Karena tidak ada teks tertulis lain yang ada di tangan kita tentang kebangkitan Yesus selain Injil.

Untuk menyambung pembicaraan, seraya mengabaikan detail kisah kebangkitan, saya mengajak pembaca berlogika-ria untuk menemukan apa yang ada di balik rekaman Injil tentang kebangkitan Yesus.

Perempuan dan Kubur Kosong
Saya pilih Injil Markus karena inilah Injil tertua. Mrk 16:1-8 mencatat kejadian tiga perempuan yang pada pagi-pagi di hari pertama Minggu, pergi ke makam Yesus untuk meminyaki-Nya. Setelah sampai di sana, mereka mendapati makam Yesus kosong. Dari orang muda berjubah putih di samping kanan makam, mereka mendapat kabar bahwa Yesus telah bangkit. Oke, saya ikut abaikan detail kisah yang dituliskan. Lagipula tidak berguna jika orang tidak memercayainya. Saya hanya mau menggarisbawahi “perempuan” dalam rekaman Injil ini.

Ada masalah apa dengan “perempuan”? Di kalangan Yahudi, perempuan adalah makhluk yang tak bisa dipercaya. Mereka tidak diperkenankan menjadi saksi dalam pengadilan. Omongan yang keluar dari mulut perempuan dianggap “bullshit”. Dalam konteks ini, adalah suatu kebodohan bagi Markus menuliskan kisah kebangkitan yang dahsyat, yang disaksikan dan disampaikan kepada orang lain oleh tiga perempuan. Kita tidak merasakan adanya perbedaan kebenaran yang disampaikan oleh seorang perempuan atau laki-laki. Tapi di zaman Yesus, hal itu hanya akan mengundang tertawaan. Tapi Markus tetap menuliskannya. Hal ini menyiratkan bahwa apa yang tertulis memang demikianlah adanya. Dengan alur pikir seperti ini, saya mengajak Anda untuk menerima bahwa peristiwa kunjungan ketiga perempuan dan kubur yang kosong benar adanya. Anda dipersilahkan untuk mengabaikan detail lain yang mungkin bagi Anda hanya isapan jempol belaka.

Perubahan Karakter Para Murid
Berbeda dengan peristiwa kebangkitan, penyaliban dan kematian Yesus telah terbukti dalam sejarah. Jika Anda meragukan kesaksian Injil, Anda dapat membacanya dari kesaksian sejarahwan Yahudi abad pertama: Flavius Yosefus. Penyaliban dan kematian Yesus merupakan tragedi paling mengenaskan bagi para pengikut-Nya. Diberitakan dalam Injil bahwa para pengecut itu lari pontang-panting ketika Yesus ditangkap. Kebanyakan dari mereka hanya berani melihat dari kejauhan ketika Yesus disiksa dan disalibkan. Petrus, komandan dari keduabelas rasul bahkan menyangkal diri sebagai murid-Nya sampai tiga kali. Dasar si mulut besar! Percakapan kedua murid di jalan menuju Emaus juga memperlihatkan kekecewaan yang besar atas harapan mereka terhadap figur Yesus. Singkat cerita, bagi para pengikut-Nya, kematian Yesus merupakan akhir cerita. Tamatlah sudah!

Lalu apa? Mengapa para pengecut itu dalam waktu tidak lama setelah kematian Yesus tiba-tiba menjadi pemberani? Mereka sampai berani mengorbankan nyawa. Stefanus dirajam. Petrus si Mulut Besar disalibkan terbalik, Paulus yang awalnya mengejar para pengikut menjadi pewarta tangguh. Apakah menurut Anda, mereka ini adalah orang-orang gila? Pasti ada suatu kejadian LUAR BIASA setelah kematian Yesus yang powerful untuk mengubah sikap mereka. Mungkin peristiwa itu adalah, atau dekat, atau mirip, atau hanya dapat diungkapkan dengan istilah “bangkit”. Peristiwa itu pasti ada karena tak mungkin orang mau mengorbankan nyawa untuk sesuatu yang bagi dirinya sendiri tidak ada. Peristiwa itu pasti benar karena ingatan orang-orang yang hidup di zaman itu masih segar dan dengan gampang dapat diklarifikasi sekiranya apa yang diwartakan merupakan kebohongan.

Dengan logika ini, sekiranya Anda tidak percaya akan kebangkitan hanya karena lemahnya bukti, Anda harus percaya bahwa setelah kematian Yesus, suatu peristiwa luar biasa telah terjadi. Peristiwa yang berdaya agung untuk mengubah manusia pengecut menjadi pemberani, pendendam menjadi pengasih, pemarah menjadi peramah, dan peristiwa yang kebenarannya telah teruji oleh waktu. Muskil rasanya ada kebohongan yang dapat bertahan hingga 20 abad. Dengan alur pikir ini, tidak penting apakah kebangkitan itu fakta historis atau hanya simbol belaka. Terserah Anda mau terima yang mana.

Ungkapan pemikiran ini ditulis dengan asumsi Anda tidak memercayai atau meragukan kesaksian Injil. Jika Anda tidak punya masalah seperti itu, disarankan agar terus menimba kekayaan Injil dan buang jauh-jauh pemikiran saya dalam tong sampah. Selamat Paskah!

Lianto

Yesus Ngamuk: Ekspresi Kontra Ketidakadilan



Sehari setelah memasuki kota Yerusalem, Yesus menuju Bait Allah. Di situ Ia menjungkirbalikkan meja dagangan orang (penukar uang dan pedagang merpati). Kejadian ini sering dilihat secara negatif sebagai tindakan temperamental. Mengapa Yesus “ngamuk”? Tinjauan konteks religio-historis berikut ini mungkin bisa sedikit klarifikasi.


Pada masa Yesus, Yerusalem merupakan pusat keagamaan bangsa Yahudi. Menjelang Paskah Yahudi, orang Yahudi dari seluruh pelosok negeri datang ke Yerusalem untuk merayakan hari terbesar dalam almanak liturgi ini. Belum ada catatan tentang jumlah massa yang berkumpul pada pesta raya ini. Namun Flavius Yosefus (sejarawan Yahudi abad pertama) pernah mencatat bahwa sebanyak 255.600 ekor domba dipotong dan disantap pada suatu perayaan Paskah di Yerusalem. Jika seekor domba disantap oleh 10 orang, maka diperkirakan 2,5 juta orang berkumpul di Yerusalem pada pekan ini. Obyek kunjungan terutama adalah Bait Allah yang menurut tradisi Alkitab berada di puncak bukit tempat Abraham mempersembahkan kurban. Bait Allah ini dikuasai oleh imam-imam kepala yang dipimpin oleh Imam Agung Kayafas.

Tidak semua orang dapat mengambil bagian dalam ritual Bait Allah. Terdapat banyak aturan yang harus dilewati orang untuk dapat memasuki tempat kudus ini. Orang harus menyucikan diri terlebih dahulu dalam kolam penyucian agar pantas masuk Bait Allah. Penggalian arkeologis masa kini menemukan adanya kolam-kolam untuk ritual penyucian ini. Bayaran yang mahal untuk penyucian harafiah itu tidak akan sanggup dilakukan oleh orang miskin. Ritual penyucian mengondisikan penyaringan orang apa yang dikehendaki para imam untuk masuk Bait Allah. Menurut Kitab Misnah (aturan ritual), orang cacat, buta, sakit, dan lumpuh dilarang masuk kolam penyucian. Barangkali hal inilah yang membuat Yesus “gerah”. Reformasi Yesus: semua orang berhak atas rahmat kebaikan Allah tanpa rintangan finansial.

Di samping itu, orang masih harus menukar uangnya dengan koin Bait Allah yang suci. Tentu dengan nilai kurs yang ditentukan imam-imam kepala. Koin suci itu dipakai untuk membeli merpati putih tak bernoda untuk korban persembahan. Inilah yang menjelaskan keberadaan money changer dan pedagang merpati di halaman Bait Allah. Perlawanan Yesus atas komersialisasi dan ketidakadilan Bait Allah diungkapkan dengan menjungkirbalikkan meja dagangan dan gagasan amat berani: peruntuhan Bait Allah. Semua ini menyebabkan Yesus dilihat sebagai figur yang berbahaya.

Aturan dibuat demi ketertiban umum. Barangkali ini argumen para imam kepala. Dalam kasus Bait Allah, aturan yang sangat berbau komersial tak bisa dijunjung karena telah bertentangan dengan aturan (hukum) yang lebih tinggi, yakni keadilan. Tindakan Yesus di halaman Bait Allah tidak lain sebagai ungkapan perlawanan terhadap ketidakadilan yang terjadi di masa itu. Dari awal kiprah-Nya di Kapernaum dan sekitarnya, Yesus telah menjatuhkan optio fundamentalis-Nya: memperjuangkan keadilan Kerajaan Allah. Mau tak mau Ia harus berhadapan dengan status quo penguasa keagamaan. Ia mendekati orang-orang marjinal yang dianggap najis oleh Taurat, menyembuhkan orang sakit pada hari terlarang (Sabat), mengampuni dosa, dan menyambut para “kafir” (menurut tafsiran para imam: orang Samaria dan orang-orang non-Yahudi).
Tindakan Yesus menyampaikan dua hal. Pertama, apa yang dilakukan Yesus merupakan ekspresi klimaks dari sikap kontra ketidakadilan. Kedua, aturan dan hukum hendaknya tidak mematikan cinta kasih dan keadilan. Aturan dan hukum akan selalu mempunyai “lubang” ketika berhadapan dengan kasus-kasus moral yang belum terpikirkan oleh si pembuat hukum tatkala merumuskannya. Dibutuhkan tafsiran atas hukum bukan berdasarkan apa yang tertulis, melainkan maksud dan semangat yang tersirat di dalamnya (epikeia). Thomas Aquinas melihat epikeia ini sebagai suatu keutamaan (virtue). Ini bukan usaha pelarian orang dari kewajiban tertentu, melainkan tanggapan dan junjungan untuk hukum yang lebih tinggi: keadilan.